Tampilkan postingan dengan label Sudut Pandang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sudut Pandang. Tampilkan semua postingan

Konsep 'Mubadzir' Dalam Organisasi Dakwah | by DR. Saproni

Jumat, 30 Mei 2014

Untuk tidak terjatuh pada kemubadziran, perlu kiranya kita bahas tentang sebab efektivitas dalam pengelolaan organisasi. Dalam hal ini ada 3 faktor pendukung  yang dapat menunjang efektivitas dalam pengelolaan organisasi yaitu :

1. perencanaan,
2. pemberdayaan potensi,
3. monitoring.

Target semestinya jelas meski kadang tidak harus selalu terukur, terkhusus pengelolaan dakwah islamiyah. Sering kali yang diperlukan adalah keyakinan bisa untuk mencapainya. Pandangan jauh dan optimisme besar itulah yang menjadikan pembebasan Yaman, Persia dan Romawi tergambar jelas, bahkan saat-saat tersulit sekalipun. Meskipun demikian target harus selalu ditentukan dan disesuaikan dengan kajian analisa dimensi ruang dan waktu tertentu.

Disinilah pentingnya peran think tank dalam membantu melihat masalah secara utuh, mengkaji peluang dan tantangan serta kekuatan dan kelemahan. Pengenalan potensi dan sumber daya adalah setengah dari keberhasilan suatu organisasi, namun diakui hal ini bukanlah perkara mudah. Mengenal potensi dan sumberdaya perlu ada pelatihan khusus sehingga menjadi skill yang bisa menghindarkan kita dari kemubadziran

Dalam merealisasikan target perlu juga diawali dengan pemetaan potensi dan sumberdaya yang ada sehingga tidak ada yang tak terbedayakan sehingga disebut dengag mubazir. Jadi salah satu problem pemberdayaan potensi adalah keengganan pemilik potensi untuk penyelesaian tugas besar, dan ini harus dicari akar masalahnya.

Kejelasan sebuah visi tidak boleh mengendap hanya pada tataran pengambil kebijakan, ia harus menjadi sesuatu yang tersebar secara utuh dalam seluruh level. Visi harus di pahami sama terang disetiap level pengambilan kebijakan sehingga semua bisa bergerak fokus pada target yang dituju.

Potensi itu tidak harus bersumber dari sumberdaya internal organisasi, bahkan yang lebih penting adalah potensi luar. Kemampuan memberdayakan potensi luar untuk tercapainya sebuah target adalah skill mahal yang juga harus ada pelatihannya. Inilah yang kemudian kita maknai sebagai upaya amar makruf, yakni upaya penghimpunan potensi kebaikan sedang kita berlaku sebagai dirigent pengatur irama orchestra.

Makruf yang dalam bahasa arab berarti sesuatu yang baik, konteksnya selalu berkembang seiring dengan berkembangnya daya kemampuan kita dalam memberikan pelayanan. Contohnya saat kita sebagai rakyat jelata, kemampuan pelayanan kebaikan kita mungkin terbatas, sekedar mengajak orang ibadah dan aksi-aksi sosial sesuai kemampuan.

Saat Allah berikan amanah mengelola sesuatu yang lebih besar, tentu makruf harus kita maknai lebih luas dari sekedar mengajak orang beribadah dan aksi sosial. Memobilisir seluruh potensi kebaikan baik dari internal maupun eksternal, muslim maupun non muslim, untuk sebuah tujuan dakwah adalah luar biasa. Dan lebih luarbiasa lagi tatkala konspirasi musuh mampu kita rubah menjadi potensi positif, ini baru pemimpin. 




diolah dari kultwit DR. Saproni M  Samin, @saproniriau
Ketua DSW PKS Riau
Read Post | komentar

Fahri Hamzah: "Koalisi Kami Adalah Koalisi Membangun Peradaban Madani"

Minggu, 18 Mei 2014

Sabtu (17/5/2014) PKS secara resmi berkoalisi dengan Partai Gerindra dan mendukung pencapresan Prabowo Subianto pada Pilpres Juli mendatang.

Menanggapi deklarasi tersebut, Wakil Sekjen PKS -yang sering dipanggil Bang Mantab di media sosial- Fahri Hamzah memberikan komentarnya.

Dalam akun twiternya @fahrihamzah mengatakan bahwa deklarasi dukungan PKS kepada Prabowo, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra dalam Pilpres Juli mendatang adalah deklarasi  yang sangat berbobot dan mengirim pesan kuat, terbuka dan apa adanya, tak ada fait accomply.

Koalisi PKS-Gerindra dan dukungannya atas pencapresan Prabowo Subianto adalah hasil diskusi panjang  antara dua tim yang dibentuk dari masing-masing partai, PKS dan Gerindra. 


Diskusi panjang itu dimaksudkan untuk menyatukan persepsi yang mungkin berbeda dari awal, untuk menghasilkan sebuah kesepakatan bersama.


"Intinya, lebih baik kita berdiskusi dan mengakui perbedaan dari awal, daripada bicara seolah tak ada masalah padahal sebetulnya ada. Kita datang dengan perbedaan dan nanti kita akan keluar dengan kesepakatan, itulah esensinya," demikian Fahri menegaskan.


Fahri lebih lanjut menyampaikan bahwa, dalam koalisi posisi awal harus sama karena tidak ada yang lolos treshold. "Koalisi kami (PKS-Gerindra, ed) berangkat dari titik yang sama. Lebih baik bicara apa adanya, pahit di depan asalkan solid di belakang," terang Fahri dengan gaya khasnya.


Dengan telah dideklarasikannya koalisi PKS-Gerindra dan dukungan atas pencapresan Prabowo Subianto dalam pilpres Juli mendatang, Fahri Hamzah menyebut bahwa koalisi dimaksud adalah koalisi bersama membangun peradaban madani.
  

"Koalisi kami (PKS-Gerindra, ed) ini adalah koalisi bersama membangun peradaban madani," demikian Fahri menutup kicaunnya. [pksbalikpapantengah.org]



 Sumber: twitter.com/fahrihamzah

Read Post | komentar

Sudut Pandang Psikologi : Pedhofilia, Apa Yang Dapat Kita Lakukan ? | By Sigit Nugroho

Minggu, 11 Mei 2014

Tulisan ini dibuat sebagai salah satu  bentuk edukasi pada masyarakat umum, khususnya yang memiliki kepedulian lebih terhadap anak anak mengenai pedofilia, hal ini terkait dengan ramainya pemberitaan akhir akhir terkait dengan kasus pelecehan seksual di JIS dan kasus ‘emon’ di Sukabumi.

Pedofilia merupakan salah salah satu bentuk gangguan kejiwaan yang masuk dalam kelompok Gangguan Parafilia. Parafilia merupakan gangguan dalam pemenuhan dorongan seksual yang ditujukan pada Objek atau subjek yang tidak lazim dan dalam proses pemenuhan dorongan tersebut menimbulkan tekanan psikologis, pemaksaan dan ancaman kematian bagi korban. 

Diagnostice and statiscal manual of mental disorder Edisi ke V atau disingkat dengan DSMS V (panduan penggolongan berbagai macam gangguan kejiwaan yang digunakan oleh psikiater, psikolog dan sosial worker lainnya ), menyatakan ada beberapa kelompok gangguan parafilia adalah gangguan voyeurism (mengintai aktivitas orang lain yang sifatnya pribadi ), exhibisionosme (memamerkan organ genital), frotteuristik (menggosokkan tubuh ke orang lain yang tidak dikenal), gangguan seksual masokis (menikmati penganiayaan yang dilakukan pasangannya ) gangguan seksual sadime (mendapatkan kepuasan  seksual dengan melakukan penyiksaan/memperlakukan pasangan seperti budak), gangguan fetistik (mendapatkan kepuasan seksual dengan menggosokkan benda-benda ke tubuh) dan gangguan pedofilia - pemenuhan dorongan seksual yang difokuskan pada anak anak, minimal anak berusia 5 tahun lebih muda dari pelaku (dimana usia pelaku minimal 16 tahun). 
 
Masih dari sumber yang sama (DSM V) Prevalensi kejadian sekitar 3-5 % pada pria dan prevalensi pelaku pedofil pada wanita ada tapi jumlahnya tidak terdata. Di Indonesia sendiri, hingga saat ini belum ada data pasti terkait dengan jumlah pelaku Pedofil. Salah satu ciri yang ditemukan pelaku adalah ketertarikan pada anak-anak sejak pelaku berusia remaja.   

American psychiatric association psychiatric dalam laporannya yang terdapat dalam DSM V mengungkapkan Pedofil merupakan lifelong condition - artinya kondisi yang melekat seumur hidup, hal ini memberi indikasi sulitnya gangguan ini disembuhkan. Predisposisi kepribadian antisocial (ditandai dengan kecendrungan perlaku untuk melanggar norma atau aturan yang berlaku) juga dimiliki   oleh sebagian pelaku. 

Dilihat dari riwayat hidup pelaku juga didukung oleh literature yang ada menerangkan jika Pelaku Pedofilia pernah menjadi korban pelecehan seksual yang dilakukan orang dewasa ketika mereka masih kecil. Jika tidak mendapatkan penanganan serius, Ini merupakan siklus yang terus menerus, korban yang tidak mendapatkan penanganan lebih rentan menjadi Pelaku di kemudian hari. 

Proses pemulihan kondisi Psikologis untuk korban memerlukan koordinasi antar beberapa profesi seperti Dokter Anak, Psikiater, Psikolog. Masing masing profesi memiliki peran yang saling mendukung satu sama lain. 

Penanganan bagi korban pedofilia dari sisi Psikologi  sendiri cukup kompleks melibatkan penanganan yang terfokus pada anak yangdapat dilakukan dengan berbagai tehnik, misalnya : trauma-focused cognitive-behavioral therapy (cbt), trauma-focused integrative-eclectic therapy (iet),trauma-focused play therapy dan sebagainya. Dalam bentuk yang berbeda, orang tua juga mengalami trauma atas peristiwa yang dialami anak mereka, karena itu mereka juga perlu mendapatkan penanganan Psikologis. 

Hal terbaik yang dapat dilakukan semua pihak adalah melakukan tindakan preventif, pencegahan kekerasan seksual pada anak  lewat program edukasi yang ditujukan pada anak, orang tua dan sekolah. Salah satu bentuk program preventif bagi anak dapat berupa pengenalan lingkungan yang aman dan tidak mengancam bagi anak, melatih anak untuk  mengenali sinyal bahaya yang mungkin muncul dari situasi pelecehan seksual dan bagaimana mereka menanggapi situasi ini. 

Orang Tua dan Guru dapat diajarkan tehnik assesment praktis, terkait identifikasi anak anak yang mungkin mengalami kekerasan seksual.













by Sigit Nugroho, S.Psi, M.Psi
Psikolog Riau
Dekan Fakultas Psikologi Universitas Islam Riau (UIR)
Read Post | komentar

Tafsir 8 Juta PKS | By @erwyn2002


Hattrick. Kata itulah yang terlintas di benak saya saat hasil suara PKS dalam pemilu legislatif diumumkan tadi malam. Dari mulut Ketua KPU Husni Kamil Manik terucap angka 8.480.204 suara yang diperoleh PKS.

Ini untuk kali ketiga PKS mendapatkan suara di kisaran 8 juta. Pada pemilu 2004 memperoleh 8.206.020 suara dan pada pemilu 2009 mendapat 8.206.955. Bagaimana kita menafsirkan ini?

Agar tidak salah tafsir, kita harus melihat --meminjam istilah Priyo Budi Santoso-- suasana kebatinan masing-masing pemilu. Mari kita lihat satu per satu.

Pemilu 2004 konflik antara Megawati dan SBY mewarnai dinamika kala itu. SBY menjadi media darling dan kian melejit namanya saat istilah "Jenderal Kok Cengeng" terlontar dari bibir mendiang Taufik Kiemas. SBY mendapat simpati publik. Citranya semakin positif. Bisa dibilang, pemilu 2004 menjadi titik awal bagi upaya pencitraan massif capres dan SBY sebagai ikonnya.

Imbasnya, Partai Demokrat yang didirikan SBY mendapat duruan runtuh. Baru ikut pemilu pertama kali, partai berlambang mercy itu memperoleh 7% suara.

PKS pun mengalami lonjakan serupa. Tidak lolos parliamentary treshold dalam pemilu 1999 sehingga harus berganti nama dari PK ke PKS, partai ini melejit.

Dalam pemilu 2009, sosok SBY begitu dominan, tak memiliki lawan setimpal. Semua partai terkena tsunami Demokrat karena suaranya turun. Hanya dua partai yang naik: PD dan PKS.

Pemilu 2014 berlangsung saat badai dahsyat masih menyisakan perih di tubuh PKS. Kurang lebih satu tahun jelang pemilu, Presiden PKS dikriminalisasi dengan tuduhan suap. Citra PKS merosot drastis. Tapi kapal yang diharapkan karam oleh musuh-musuhnya itu justru mampu bertahan dan terus berlayar. Dan angka 8 juta kembali didapat.

Banyak pihak yang menafsirkan bahwa suara PKS stagnan, mandek dan tidak mengalami perkembangan. Pendapat ini benar jika kita melihatnya pada perolehan suara an sich. Tapi, jika kita melihat secara menyeluruh termasuk suasana kebatinan setiap pemilu, maka pendapat di atas perlu dikoreksi.

Dua pemilu terakhir kita mengalami suasana yang tak normal. Jika pemilu 2009 semua partai coba dibumihanguskan, maka dalam pemilu 2014, terlihat jelas PKS yang menjadi satu-satunya partai yang ingin dihabisi.

Bercermin dari itu, angka 8 juta memiliki bobot berbeda. Pemilu 2004 ibarat ujian SD, lalu naik level ke SMP pada 2009 dan ujian SMA pada pemilu 2014. Jenjang yang berbeda tentu saja memiliki soal yang juga berbeda kualitasnya. Dan cara kita menjawab soal pun berbeda pula.

Pemilu 2004 boleh dibilang suasana yang relatif bebas bagi PKS. Musuh-musuh tak memperhitungkan mengingat dalam pemilu sebelumnya tak lolos PT. PKS tak begitu diperhatikan sehingga suaranya melonjak drastis.

Angka 8 juta kala itu merupakan suara publik yang berharap besar PKS membawa perubahan. Dan suara itu terus bertahan pada pemilu selanjutnya dengan tingkat ujian yang sungguh luar biasa.

2004 periode publik yang berharap besar. Tahun 2009 masa ketika publik masih berharap pada PKS meski SBY menerjang dengan gelombang tsunaminya. Dan pada 2014, suara itu tetap bertahan pada saat yang menurut saya menjadi critical mass PKS. Ini sungguh fenomenal.

Critical mass PKS sudah kita lalui. Kita berharap, pemilu 2019 suasana kebatinannya berlangsung normal tanpa prahara. Jika itu yang terjadi, kita layak meniup balon optimisme akan melambungnya suara PKS. Tentu saja dengan syarat evaluasi internal dilakukan dan hasilnya dieksekusi dengan optimal.

Bukankah kita tak mau membuat quatrick dengan empat kali berturut-turut memperoleh 8 juta suara?

By: Erwyn Kurniawan
Follow @Erwyn2002 on Twitter
[pksciktim.org]
Read Post | komentar

Just Warning #election | by Mahfudz Siddiq

Rabu, 07 Mei 2014

Saat sejumlah orang sibuk koalisi pilpres, adakah terpikir bahwa pileg kali ini tdk bisa hantarkan ke tahap pilpres??

Bukan ingin menebar pesimisme, tapi saya ingin memotret pelaksanaan Pileg 2014 yg juga jadi tahapan prasyarat bagi Pilpres.  

9 mei batas akhir penetapan suara nasional parpol oleh KPU sbg hasil Pileg 2014. Mulai muncul suara2 cemas dan ide kontijensi.  

Cemas krn khawatir KPU tdk bisa selesai rekap & tetapkan suara nasional akibat banyak ketidaksesuaian data pemilih dan suara.  

Validasi ulang ke KPU Provinsi malah munculkan masalah2 baru. Muncul tuntutan rekap ulang hingga pencoblosan suara ulang.  

Solusi prosedural rekap dan penetapan suara dilanjutkan. Dugaan kecurangan proses sengketa di MK. Tp banyak parpol menolak.  

Solusi prosedural ini bisa bebaskan KPU dan Bawaslu dr tgjwb. Krn proses berpindah ke MK. Tp sesederhana itukah?  

Tentu tdk sederhana. Krn potensi jumlah sengketa yg hrs diproses MK sgt banyak. Sulit diselesaikan. Smntr waktu yg ada terbatas.  

Penyelesaian sengketa di MK dgn pengajuan dan pengujian alat bukti utama, yaitu form C1. Basis rekap suara di TPS. Bayangkan!  

Meski penetapan suara nasional parpol oleh KPU absah, tp legitimasinya lemah jk banyak gugatan sengketa hasil.  

Sementara UU mengatur bhw perolehan suara nasional dan jml kursi DPR jd syarat pengajuan capres-cawapres. Termasuk koalisinya.  

Berpikir di ujung, bayangkan 2 masalah besar: pertama, Penetapan perolehan suara dan kursi nasional oleh KPU yg rumit dan sulit.  

Kedua, penyelesaian sengketa hasil pileg di MK yg rumit dan sulit serta butuh waktu sgt lama.  

Apa implikasi kedua masalah besar tsb? Pesimisnya Pileg gagal pada tahapan akhirnya dan kehilangan legalitas krn langgar UU.  

Optimisnya, KPU-Bawaslu dan MK akan akselerasi proses shg semua tahapan dgn persoalan2nya diselesaikan sesuai waktu.  

Moderasinya, ada konsensus di antara parpol tuk selamatkan Pileg 2014 dan itu membantu KPU-Bawaslu dan MK selesaikan tugasnya.  

Apapun implikasi tsb, proses Pileg ini akan sgt pengaruhi terlaksana atau tidaknya Pilpres 2014. Apa mungkin Pilpres mundur?

Apa konsekuensi hukum jika proses Pileg gagal diselesaikan pada tahap akhirnya oleh KPU-Bawaslu?

Pertama, jajaran KPU dan Bawaslu bisa dituduhkan melanggar UU dan berkonsekuensi ancaman pidana.

MK makin kehilangan fungsi dan legitimasinya krn tdk bisa selesaikan proses sengketa hasil pileg. Skrg saja orang ragu dgn MK.

Lalu ketiga, ada kondisi force majeur untuk menunda Pilpres 2014 krn gagalnya Pileg sbg tahapan pendahuluannya.

Imajinasi plg ujung, muncul darurat kekuasaan. DPR & Presiden habis masa jabatan. Pileg gagal. Pilpres mundur. Muncul Triumvirat.  

Pada titik itu segala kemungkinan bisa terjadi. Trmk darurat konstitusi. Kejauhan dan terlalu buruk ya mikirnya?  

Biarlah. Ketika banyak orang sibuk mikir yg bagus2 dan sibuk nyapres dan koalisinya, saya mikir yg sebaliknya. Just warning.  

Apa imajinasi ini ada rasionalisasinya? Tentu ada. Pertama, ada pihak2 yg lama nilai demokrasi kita sdh kebablasan. Ultra liberal.  

Mrk berpikir negara hrs diluruskan kembali dari pondasinya, yaitu Konstitusi & pilarnya yaitu tatanan kekuasaan di tiga cabangnya.  

Juga mensterilkan ruh negara dgn bongkar semua kebijakan ultra liberal. Semacam "revolusi konstitusional".  

Kedua, kekacauan penegakan hukum yg berselingkuh dgn politik tlah sama ciptakan politik saling sandera dan saling tikam.  

Bahkan proses menuju koalisi pun rasanya akan diganggu kasus2 penegakan hukum. Mungkin ada yg gak berani nyapres krn hal ini.  

Hehe serem amat ya? Tapi saya msh berharap bhw ini semua tdk terjadi. Pileg 2014 selamat dan Pilpres bisa gelar pesta berikutnya.  

Mari buat potret mundur bgm sbnrnya pelaksanaan pileg kali ini. Di banding 3 pileg sblmnya, pileg 2014 paling kacau.  

Ini penilaian dari saya sbg pelaku. Bukan sbg akademisi atau pengamat. Dari obrolan sesama pelaku ada kesamaan penilaian.  

UU Pileg 2014 tdk banyak berbeda dgn yg sblmnya. Jadi secara regulasi hampir sama. Tp realita implementasinya jauh beda.  

Institusi penyelenggara jg sama. KPU dan Bawaslu. Bahkan jajaran penyelenggara sampai ke KPPS didominasi orang2 lama juga.  

Peserta pemilu pun gak beda jauh. Masih itu-itu juga, baik parpol maupun calegnya.  

Dari sisi waktu, tahapan dan anggaran juga sama aja. Bahkan anggaran lebih besar dibanding sebelumnya.  

Dari sisi pengawasan mestinya lebih ketat krn Bawaslu punya relawan sejuta orang. Dibiayai negara tentunya.  

Jika semua variabel hampir sama, kenapa realitas implementasinya jadi kacau ?  

Mari kita mulai telusuri dari Daftar Pemilih Tetap. Krn di sini asal dan sumber suara untuk pileg dan pilpres.  

Sistem Administrasi Kependudukan yg dimulai sejak 2007 tdk pernah tuntas oleh Kemendagri. Lanjut program E-KTP bernasib sama.  

Dari Adminduk diolah Kemendagri jadi DP4 dan diproses KPU menjadi DPS dan DPT. Jika data asal kacau, data susulannya juga kacau.  
  
Ingat pastinya, sampai jelang masa pencoblosan, masih ada proses perbaikan DPT oleh KPU. Data pemilih adl pintu pertama kecurangan

Teorinya, jika ingin maipulasi suara - gelembungkan DPT nya. Jika ingin tekan lawan di basisnya, - kempeskan DPT di daerah tsb.

Jika DPT normal, kecurangan dilakukan dgn mengatur surat pemanggilan memilih. KPPS bisa main atur hal tsb.

KPU di daerah juga bisa atur pembagian TPS dan distribusi pemilihnya. Ini menyangkut probabilitas kehadiran pemilih ke TPS.

Apakah jajaran penyelenggara pemilu punya intensi dan kepentingan lakukan kecurangan? Temtu tidak secara teori dan etikanya.

Tapi jika ada peserta pemilu intervensi, persuasi atau kolaborasi dgn oknum penyelenggara maka kecurangan bisa terjadi.

Atau jika ada oknum penyelenggara yg memang ditanam khusus oleh peserta pemilu tuk jalankan kepentingannya.

Dlm praktek pileg 2014 keterlibatan oknum penyelenggara sgt nampak dan agak masif. Bahkan ada inisiatif penawaran dr mereka.

Ingat kasus tertukarnya distribusi surat suara yg masif? Apakah sengaja? Bisa Ya bisa tidak. Tapi apa implikasinya?

Surat suara tertukar hasilkan Pencoblosan Suara Ulang. Tdk diatur UU tp dilaksanakan. Siapa yg diuntungkan dan siapa yg dirugikan?

Saat proses pencoblosan selesai di TPS, ada sisa surat suara tak terpakai. Sudah malam, saksi2 sdh tumbang. Oknum KPPS mulai main.

Mulailah penghitungan suara. Ada yg selesai tengah malam. Saksi nyaris gak ada. Terjadilah salah hitung dan salah rekap di plano.

Saya tdk tahu salah hitung, salah rekap atau ada yg sengaja salah. Tapi kok ya masif. Itu terjadi di TPS, PPS dan lanjut di PPK.

Ternyata banyak partai dan caleg tdk bisa himpun form C1 dgn lengkap dan valid. Suara berubah dari menit ke menit.

Ternyata perubahan2 suara di tiap tingkatan bernuansa transaksional. Ini pesta bung. Begitu ujar sejumlah oknum penyelenggara.

Pada tiap tingkatan penyelenggara ada ruang abu2 tuk bermain. Krn nyaris data tdk terkoneksi dan tdk terkontrol baik.

Lho kan ada Panwas dan relawan? Hehe... Jaman Orba banyak oknum polisi ngumpet di balik pohon tuk cegak pelanggar lalin.

Kadang rokok sebungkus dan teh botol cukup jadi kemenyan tuk selesaikan temuan petugas panwas. Apalagi masih sekampung.

Siapa awasi siapa, siapa ngatur siapa, siapa nego dgn siapa - jadi gak jelas. Persis sepakbola kampung!



 
https://twitter.com/MahfudzSiddiq 
Ketua Komisi I DPR RI  | Fraksi PKS
Read Post | komentar

Presiden Pilihan Saya | by Asma Nadia

Sabtu, 03 Mei 2014

Telah lima kali pemilihan umum sejak pertama menggunakan hak pilih, dan saya masih saja menunggu kehadirannya, Presiden Pilihan Saya. Mencari-cari sosoknya, di antara rasa bingung melihat para calon presiden datang dari satu partai ke partai lain sibuk melobi sana sini, tapi tidak satu pun yang benar-benar melobi rakyat Indonesia.

Padahal tren saat ini, masyarakat tidak selalu memilih presiden sesuai rekomendasi partai. Sangat mungkin seseorang mengusung partai tertentu di pemilu legislatif tapi memilih presiden yang dinominasikan partai lain.

Siapa pun mengerti, memilih presiden berarti menunjuk orang, bukan lembaga kepartaian lagi. Jadi kenapa para calon presiden itu lupa melobi rakyat Indonesia? Mereka bisa menyampaikan visi dan misi yang jelas, lalu bernegosiasi dengan rakyat.

Kalau cuma berjanji membuat Indonesia lebih maju, lebih makmur atau hukum lebih ditegakkan, buat saya itu hanya janji semu karena tidak ada indikatornya. Saya memilih calon presiden yang punya janji dan solusi konkret. Presiden yang menjamin tidak ada lagi lembaga atau institusi, baik di tingkat lokal maupun propinsi, pada level pemerintah maupun non pemerintah, yang melarang muslimah menutup aurat.

Saya memilih Presiden yang berani menjamin bahwa di masa kepemimpinannya tidak ada siswa atau mahasiswa yang menjadi korban bully para senior. Presiden yang memikirkan dengan matang penyelenggaraan UN. Dia yang menjamin tidak akan ada soal UN yang bocor, tidak ada soal UN yang keluar dari apa yang dipelajari siswa, bahkan berani menghapus UN jika “satu-satunya indikator” kelulusan siswa itu dianggap lebih sedikit memberi manfaat ketimbang pengorbanan yang dikeluarkan.

Saya memilih presiden yang berani menjamin nilai rupiah menguat dan tidak membiarkan dolar terus menari-nari di atas kelemahan rupiah kita.

Saya memilih Presiden yang menjamin bahwa TKI Indonesia di luar negeri akan dijamin kehormatan, keselamatan dan hak-hak kemanusiaannya.

Saya memilih presiden yang menjamin penegakan hukum yang tidak tebang pilih.

Saya memilih presiden yang menjamin bahwa setiap ruang publik menghargai ibadah shalat umat Islam dengan menyediakan mushola layak, yang mudah dijangkau dan bersih.

Saya memilih presiden yang menjamin anak-anak Indonesia bebas dari ancaman narkoba, minuman keras, pedofilia dan propaganda rokok.

Saya memilih presiden yang mau mencurahkan tenaga dan pikiran untuk menyiapkan anak Indonesia berlaga di Piala Dunia di masa depan, mengembalikan kejayaan bulu tangkis dan memajukan dunia olah raga. Saya memilih presiden yang menjamin tidak ada lagi buku-buku, juga film lokal dan karya anak bangsa yang dibajak.

Saya memilih presiden yang berani menghapus tayangan yang mengandung pornografi dan kekerasan serta pembodohan baik di layar kaca atau di layar lebar.

Saya memilih presiden yang siap turun langsung ke daerah bencana untuk memastikan korban mendapat bantuan sebaik dan sesegera mungkin.

Saya memilih presiden yang siap mengucurkan dana untuk pengusaha kecil menengah. Presiden yang menyadari bahwa pondasi kokoh ekonomi bangsa tak cuma berada di tangan pengusaha kelas kakap, tapi juga berada di tangan para pengusaha kecil menengah ini. Saya memilih presiden yang ... yang... yang...

Ah, di manakah dirimu, Presiden Pilihan Saya? Di antara sosok-sosok berpakaian formal, lembar pidato penuh propaganda, serta senyum yang dihadirkan sesimpatik mungkin di media cetak dan layar televisi, saya masih mencarimu. Sosok yang akan menjamin, setidaknya sungguh-sungguh berusaha menjadi jawaban akan berbagai persoalan di tanah air. Jangan katakan penantian ini sia-sia. Saya percaya kau ada. Mohon, muncullah. [ROL]
Read Post | komentar

Menanti Harmoni Militer-Islamis Pimpin Indonesia | by @AryaSandhiyudha

Rabu, 30 April 2014

Daya tarik Islam bukan karena ia Klub orang-orang sholeh scr biologis; tapi sebab ia sahabat cahaya bagi yang terluka & tersisih utk jd sehat & mulia.

Daya tarik Islam sebab ia mbentang peluang bg siapapun dengan latar "serendah, selemah, sekecil" apapun dalam standard duniawi untuk mulia ukhrowi.

Daya tarik Islam sebab ia mencakup ruang pilihan hidup yang lengkap, hingga apapun potensi diri bisa jadi kontribusi madani, tiket ke Surga nanti.

Tiada pemerintah tanpa militer; Tiada militer tanpa uang; Tiada uang tanpa sejahtera; Tiada sejahtera tanpa keadilan & adminstrasi yang baik- IbnQutayba. 

('There can be no government. without an army; No army without money; No money without prosperity; & no prosperity without justice & good administration") -IbnQutayba

*Qutayba merupakan intelektual muslim abad ke-9, pandangannya tsb dikutip dlm Comparative Politics karya WR. Clark, M. Golder, & SN. Golder

Bila di lihat dari DPR-RI 2009-2014, terlihat bahwa perhatian PKS ke militer & pertahanan bukan baru. Ketua Komisi I sejak awal dari PKS Mahfudz Siddiq.

5 Ketua/Presiden PKS yang pernah di DPR-RI semuanya pernah di Komisi I (pertahanan): Hidayat Nur Wahid, Al Muzzammil Yusuf, Tifatul Sembiring, Luthfi Hasan Ishaaq, juga Anis Matta.

Bersama dengan semua pimpinan & anggota komisi I DPR-RI, aleg PKS yang Ketua Komisi I Mahfudz Siddiq, mendorong banyak terobosan militer & pertahanan.

Jadi bukan hal mendadak, apalagi mengherankan, kalau benar nantinya akan ada penguatan relasi PKS dengan aktor militer & pertahanan lebih jauh.

Komisi I DPR-RI 09-14 justru jadi titik tolak era baru transformasi pertahanan, karena berhasil tetapkan Renstra & UU tentang Industri Pertahanan. Selama ini dunia militer mengeluhkan alutsista yang lemah yang digunakan aktor pertahanan untuk menjaga NKRI. UU Industri Pertahanan sejarah baru.

Di dalamnya termasuk Renstra anggaran mengikat setidaknya hingga 2024. Tak hanya untuk mencapai MEF tapi juga memacu kemandirian industri pertahanan. Tidak hanya concern pada senjatanya, namun juga manusianya.

Komisi I selama 2009-2014 meningkatkan anggaran untuk personil militer (bawah) secara bertahap. Perjalanan Komisi I juga bukti bahwa kebijakan pertahanan kini lebih integral. Ada sinergi industri pertahanan dengan industri strategis lainnya.

Kalau hari ini & ke depan di Indonesia ada kombinasi kepemimpinan Militer-Islamis. Itu adalah capaian termahal dan terunik dalam demokrasi dunia.

Bila di Barat seperti AS yang unik itu adalah memiliki pemimpin dari ras minor. Maka untuk negara-negara muslim yang unik itu adalah harmoni Militer-Islamis.

Militer Indonesia akan menjadi korps terunggul yang berhasil lepaskan dwifungsi, bisnis politik, jaga relasi dengan sipil, tapi juga relasi dengan Islamis. Juga bukti bahwa watak Islamis Indonesia juga perlu dimaknai ulang, sebab nyatanya ia amat berbeda secara praksis dengan yang ada di Timur Tengah.

Mungkin budaya kita jawabannya. Kekuatan karakter Ke-Indonesiaan yang membuat Militer dan Islamis bisa demikian lunak mengakomodasi demokrasi.

Kita insyaAllah tidak akan menapak tilas ketegangan militer-islamis seperti dalam perjalanan politik Mesir, Turki atau negara lainnya.

Negara Pancasila juga yang telah membuat NKRI ini memiliki potensi relasi kepemimpinan Militer-Islamis yg kian toleran; saling berkolaborasi. [pkssumut]

Tweet Senin, (28/04/14)
 
Arya Sandhiyudha AS 
@AryaSandhiyudha 

Ph.D Candidate at FATIH University, Turkey/ President of Indonesian Student Association in Turkey




 
Read Post | komentar

Mencermati Manuver PKS Dalam Pilpres by @sangpemburu99

Selasa, 29 April 2014


Dinamika politik menjelang Pilpres 2014 makin menarik dicermati. Partai2 saling bermanuver menggalang koalisi.
  
Salah satu partai yg cukup menyedot perhatian adalah PKS. Publik menunggu-nunggu langkah apa yg akan diambil partai ini menyongsong pilpres.
      
Mengapa langkah PKS cukup menarik perhatian publik? Bukankah sempat ada kesan bahwa partai2 lain cenderung enggan "berkawan" dgn PKS?
  
Kesan itu terbangun setelah PKS melakukan berbagai langkah berani dgn mengambil sikap berbeda dgn Partai Demokrat terkait bbrp isu strategis
  
Masih ingat isu Bank Century? Masih ingat isu angket mafia pajak? Isu kenaikan harga BBM? Dlm isu2 itu PKS berani berseberangan dgn PD.
  
PD yg notabene merupakan pimpinan koalisi dan partai terbesar sempat dibuat frustrasi dgn sikap PKS yg "tdk bisa dikendalikan" dan "bandel".
  
Bahkan akibat sikap berani PKS itu, portofolio PKS di kabiet dikurangi dgn dicopotnya Menristek Suharna Surapranata.
  
Dan tidak berhenti sampai disitu. Banyak elit PD mendesak SBY untuk "menendang" PKS dari Setgab.
  
PKS jg sempat tdk diundang dlm bbrp rapat Setgab. Intinya, PKS dikucilkan dan saat itu hampir semua org menduga PKS akan sgr "ditendang".
  
Namun apa yg terjadi? Ternyata sampai hari ini, menjelang berakhirya masa kekuasaannya, SBY tetap tidak berani mengeluarkan PKS dari kabinet
  
Sikap SBY ini sempat membuat frustrasi sebagian elit Demokrat seperti @ulil dan @ruhutsitompul yg sudah gerah dgn manuver PKS.
  
Tapi apa mau dikata, SBY punya pertimbangan dan perhitungan sendiri dg membiarkan PKS tetap di kabinet sampai berakhir pemerintahannya.
  
Dari kasus itu akhirnya dimunculkan "imej" bahwa PKS itu bukan kawan koalisi yang baik. PKS tidak konsisten, PKS mau menang sendiri, dsb.
  
Namun ternyata imej itu tidak terbukti, paling tidak fakta yg tersaji dlm beberapa hari ini. Ternyata masih banyak yg berminat m'gandeng PKS
  
Kemarin terungkap bahwa kubu ARB dan Prabowo sudah intens berkomunikasi dgn PKS. Bahkan Prabowo sdh menyampaikan surat resmi ajakan koalisi.
  
Sempat mencuat juga rencana SBY membentuk poros baru dgn menggandeng PAN, PKB dan PKS. Intinya, msh banyak yg berminat melamar PKS.
  
Lalu pertanyaannya, mengapa PKS msh dianggap menarik untuk diajak berkoalisi dlm Pilpres mendatang? Apa mereka gak mau belajar dr Demokrat?
  
Menurut saya, setidaknya ada bbrp faktor yg membuat PKS masih banyak dilirik untuk diajak berkoalisi memenangkan pilpres mendatang.
  
(1/2) Pertama, perolehan suara PKS yg mencapai kurang lebih 7%. Hasil ini jauh di atas hasil survei berbagai lembaga yg memprediksi ..
  
(2/2) capaian suara PKS akan terjun bebas, bahkan ada yg memprediksi PKS tdk lolos PT 3%.
   
Raihan suara PKS itu telah menjungkirbalikkan prediksi berbagai lembaga survei, termasuk lembaga2 yg "sudah punya nama".
  
Fakta itu membuat bargaining position PKS tetap kuat. Makanya tak heran, kubu ARB dan Prabowo intens mendekati PKS utk diajak berkoalisi.
  
Dan hal itu makin diperkuat fakta bahwa capaian suara PKS itu hanya mengandalkan kerja mesin partai. Mengapa demikian?
  
Tidak ada 1 caleg pun di PKS yang berstatus sebagai artis/pesohor. Bandingkan dgn partai2 lainnya yg berlomba memasang artis sbg calegnya.
  
Apalagi perolehan kursi PKS di DPR yang besar kemungkinan tidak kalah dengan kursi PKB yg perolehannya di atas PKS (9%).
  
Ini tdk lepas dr sebaran basis massa PKS yg cukup merata (tdk "numpuk" di satu wilayah spt PKB) shg menguntungkan dalam hal perolehan kursi.
  
Faktor jumlah kursi ini juga penting mjd pertimbangan khususnya bila dikaitkan dgn dukungan parlemen utk mengamankan kebijakan pemerintah.
  
Faktor kedua yang membuatnya masih menarik/dilirik partai lain utk diajak koalisi dlm pilpres mendatang adalah kinerja mesin politiknya.
  
Sejak keikutsertaannya dlm pemilu 1999, kinerja mesin PK/PKS dikenal cukup handal karena didukung kader2 yang militan dan mau berkorban.
  
Di pileg 2014 kemarin misalnya, peran saksi2 dr PKS sangat menonjol dibanding saksi partai lain dlm proses pemungutan & penghitungan suara.
  
Militansi kader PKS dlm menjaga dan mengamankan suaranya juga terbukti membuat pihak2 yg akan berbuat curang berpikir dua kali.
  
(1/1) Saksi2 yg militan spt saksi2 dari PKS ini tentunya sangat diperlukan dlm pilpres nanti. Shg tdk tertutup kemungkinan,..
  
(2/2) ... saksi2 dr PKS lah yg justru lebih diandalkan daripada saksi2 dari parpol si capres itu sendiri. Ini jg terukti di pemilu 2009 dulu
  
Dengan dua faktor utama tersebut, maka tak heran kalau PKS masih menjadi primadona utk diajak koalisi (tentunya di luar kubu Jokowi/PDIP).
  
Lalu kemana arah pilihan PKS untuk berkoalisi? Berdasarkan inforasi dari bang @Fahrihamzah lewat kultwitnya kemarin, sdh cukup jelas.
  
Ya, nampaknya pilihan berkoalisi PKS jatuh ke capres partai @Gerindra , Prabowo Subianto. Ini sesuai dugaan saya spt kultwit terdahulu :)
  
Dan menurut hemat saya, pilihan bergabung mengusung Prabowo adalah pilihan terbaik dari terbatasnya pilihan yg ada. Pilihan paling rasional.
  
Idealnya memang PKS bersama2 partai2 berbasis Islam lainnya (PKB, PAN, PPP, PBB) menggalang poros terpisah utk mengusung capres sendiri.
  
Namun realita politik yg kita saksikan berbicara lain. Bersatunya partai2 berbasis Islam itu baru sebatas wacana.
  
Ketiadaan "figur pemersatu" dan ego masing2 partai mjd hambatan terbentuknya poros partai berbasis Islam itu.
  
Hanya PKS yg nampak serius dgn wacana itu. Sedangkan yg lain hanya sekedar "menggugurkan kewajiban". Mau bukti?
  
Hanya PKS lah yg mengirim wakilnya scr "fullteam". Ada presiden partai, sekjen, dan jajaran pengurus DPP.
  
Sedangkan partai2 lain hanya mengirimkan perwakilan "seadanya" saja. Dari sini saja sdh nampak PKS yg paling bisa menepikan ego politiknya.
  
Setelah wacana poros partai2 berbasis Islam kandas, apakah PKS harus berdiam diri? Tentu saja tidak.
  
PKS harus menentukan pilihan di tengah amat terbatasnya pilihan itu. PKS harus memilih yang paling rasional. Pilihan terbaik dr yg ada.
  
Yang jelas, PKS "tidak mungkin" bergabung dgn PDIP mendukung Jokowi. Mengapa? Anda semua tentu sudah tahu jawabannya :D cc @MustofaNahra
  
Lalu bagaimana dgn pilihan bergabung dgn Golkar mengusung Ical? Ada banyak catatan di sini yg harus dicermati.
  
Elektabilitas ARB yg tak kunjung terdongkrak dan dukungan internal Golkar kpd ARB yg tdk maksimal adalah catatan penting yg hrs dilihat.
  
Lalu bagaimana dgn pilihan berabung ke kubu SBY yg "konon" akan membentuk poros baru mengusung capres sendiri? Pilihan ini jg problematik.
  
(1/1) Pertama, tdk ada figur alternatif yg kemungkinan didukung poros bentukan SBY yg elektabilitasnya cukup memadai.
  
(2/2) Kedua, pebentukan poros itu baru wacana. Tdk ada jaminan partai2 spt PAN, PKB mau diajak PD bergabung membuat poros baru.
  
Dan pilihan berikutnya adalah bergabung ke @Gerindra mengusung Prabowo sbg capres. Inilah pilihan yg paling rasional. Mengapa demikian?
  
Pertama, Prabowolah capres yg paling berpeluang utk menandingi elektabilitas Jokowi. Setidaknya ini berdasarkan survei2 yg ada.
  
Kedua, Gerindra adalah partai yg sedang "naik daun" (the rising star), spt PD dan PKS di tahun 2004.
  
Artinya mesin politik Gerindra yg solid dgn didukung dana yg memadai merupakan "advantage" tersendiri utk menopang kemenangan Prabowo.
  
Dan ketiga, dari semua capres yg ada, Prabowo lah yg terlihat paling intens dan serius mengajak PKS berkoalisi memenangkan pilpres.
  
Dengan demikian, bergabung dgn @Gerindra mengusung @Prabowo08 adalah pilihan terbaik bagi PKS saat ini di antara pilihan2 lainnya yg ada.
  
Namun tentu saja setiap pilihan politik ada risikonya, termasuk pilihan PKS bergabung dgn Gerindra mendukung Prabowo.
  
Lalu apakah mendukung Prabowo merupakan pilihan ideal bagi PKS. Jelas tidak!! Tapi PKS tdk bisa berdiam diri hanya mjd penonton.
  
Namun ketidakidealan itu bisa sedikit dikurangi dgn membuat komitmen politik yg jelas antara PKS dan Gerindra. Termasuk bila nanti kalah.
  
Dan menurut saya, PKS dan Gerindra harus berkomitmen bila nanti kalah, harus tetap beroposisi, tidak bergabung ke kubu pemenang.
  
Lalu apakah cukup hanya Gerindra dan PKS yg mengusung Prabowo dlm pilpres mendatang? Menurut saya tidak cukup!
  
Dibutuhkan paling tidak 1 partai lagi untuk bergabung mendukung Prabowo.
  
Kalau melihat kecenderungan konstelasi politik saat ini, partai yg berpeluang besar mengusung Prabowo adalah PAN dan Hanura.
  
PAN itu "fleksibel" bisa kemana saja, asal mau mencalonkan Hatta Rajasa sbg cawapresnya. Sdgkan Hanura juga berpeluang bergabung, mengapa?
  
Kita lihat Wiranto sudah "rujuk" dgn Prabowo. Perang dingin di antara mereka sejak peristiwa 1998 nampaknya sdh berakhir.
  
Dan Wiranto saya kira juga cukup realistis melihat perolehan suara partai Hanura yg menduduki peringkat terbawah dr 10 partai yg lolos PT.
  
Bagaimana dgn PKB? Nampaknya partai ini sdh kepincut dgn Jokowi dan bergabung dgn PDIP, meski harus "meninggalkan" si raja dangdut...
  
Artinya, kemungkinan besar Wiranto tdk akan memaksakan diri maju sbg capres/cawapres. Meski opsi sbg cawapres Ical juga masih terbuka.
  
...yg telah berkontribusi besar mengerek perolehan suara PKB kemarin. Soal janji mau mencapreskan Rhoma? Ah, seribu alasan bisa dibuat..
  
Bagaimana dgn PPP? Nampaknya partai ini ada sinyal bakal bergabung ke kubu PDIP pasca "kemenangan" kubu Emron Pangkapi dan Romi atas SDA.
  
Lalu bagaimana dengan Demokrat? Saran saya, cuekin saja! :D Kalau Golkar? Hehe, partai ini msh sibuk dgn masalah internalnya yg gak solid.
  
Kalau Golkar dan Demokrat gagal mendapat kawan, bisa saja mereka bersatu :) ARB bisa dipasangkan dgn pemenang konvensi Demokrat.
  
Dengan demikian akan ada 3 kubu. 1. PDIP-Nasdem-PKB-PPP, 2. Gerindra-PKS-PAN-Hanura, dan 3. Golkar-PD. Namun "formasi" ini bisa berubah...
  
Bila Demokrat memilih bergabung dgn Gerindra mengusung Prabowo. Dan Golkar? Tak ada pilihan lain kecuali bergabung dgn PDIP!
  
Sehingga pilpres nanti akan terjadi head to head antara kubu Jokowi dan Prabowo.
  
Kalau sampai terjadi duel head to head antara Jokowi vs Prabowo, ini akan menjadi pertarungan sengit. Gajah vs Gajah.
  
Namun nampaknya itu belum akan terjadi, setidaknya di putaran pertama. Saya tetap menduga ada minimal 3 pasang capres cawapres di putaran I.
  
Dan pada putaran kedua, barulah akan terjadi head to head antara kubu Jokowi vs Prabowo dgn membawa gerbong masing2.
  
Lalu bagaimana PKS harus bermain dalam pertarungan itu? Tak ada kata lain, PKS harus ikut bermain dgn "totalitas". Jangan setengah2.
  
Lepas bagaimana nanti hasilnya, itu tidak menjadi masalah. Kalah sekalipun bukan kiamat bagi PKS. Mengapa demikian?
  
Pertama, PKS masih bisa menjalankan fungsinya dgn optimal sbg oposisi yg kuat di parlemen.
  
Apalagi bila ada komitmen dgn Gerindra dan partai2 pendukung lainnya untuk KONSISTEN menjadi oposisi bila kalah dlm pertarungan pilpres.
  
Kedua, meski di tingkat pusat PKS menjadi oposisi, namun di tingkat lokal PKS masih bisa berjuang memenangkan pertarungan melalui Pilkada.
  
Beberapa daerah sampai sejauh ini sudah dimenangkan PKS baik di tingkat propinsi maupun tingkat kabupaten/kota.
  
Di daerah2 di mana kepala daerahnya adalah kadernya, PKS masih bisa membuktikan dedikasinya untuk kemashlahatan masyarakat banyak.
  
Sekali lagi saya hanya berpesan melalui kultwit ini, bila nanti jago PKS kalah dlm pilpres, tetap KONSISTEN untuk jadi OPOSISI!
  
Jangan mau dibujuk untuk bergabung dlm pemerintahan sang capres rival. Ini demi marwah partai, kader, dan segenap simpatisan.
  
(1/1) Dan dgn konsisten berperan sebagai oposisi yang kuat dgn mengkritisi kebijakan2 yg merugikan kepentingan rakyat banyak, maka PKS ..
  
(2/2)..telah memiliki "tabungan" untuk pertarungan 5 tahun yang akan datang.
  
Jadi saya ucapkan selamat berjuang kepada PKS beserta segenap kader dan simpatisannya. Tanamkan "tsiqoh" kepada para pimpinannya.
  
(1/1) Apapaun keputusan yang diambil terkait pilpres nanti, itu semua adalah ijtihad politik yang diambil berdasarkan syuro dgn pertimbangan
  
(2/2)...kemashlahatan umat, bukan demi mengejar kekuasaan an sich.
  
Sekian kultwit tentang "MENCERMATI MANUVER PKS DALAM PILPRES 2014" ini. Semoga bisa menambah wawasan dan mencerahkan. Wassalam.




https://twitter.com/SangPemburu99
Read Post | komentar

Generasi Perubahan by Asma Nadia

Sabtu, 26 April 2014


Ada dua pilihan bagi generasi muda untuk mengisi masa depan. Pertama menjadi generasi penerus atau generasi pelopor perubahan atau generasi pembaharu.

Generasi penerus merupakan pilihan ketika generasi di atas kita memang lurus, sholeh, profesional dan amanah. Sebagaimana para sahabat melanjutkan perjuangan Rasulullah Saw. Tabiin meneruskan perjuangan sahabat dan seterusnya.

Sedangkan ketika dihadapkan pada kenyataan memiliki generasi pendahulu yang secara umum tidak amanah, egois, tamak, tidak peduli, tidak menegakkan kebenaran dan lebih banyak menimbulkan kemudharatan, maka pilihannya adalah menjadi generasi pelopor perubahan atau pembaharu.

Saya teringat ketika reformasi baru dikumandangkan di akhir tahun 90-an dan di awal tahun 2000, lahirmotto “Potong satu generasi”yang diusung para pemuda penggerak reformasi.Intinya menghilangkan generasi lama yang sudah tercemar dengan korupsi, kolusi dan nepotisme di masa orde baru. Secara teori dengan masuknya generasi baru maka jaringan korupsi sudah dipotong dan dihapus, menyisakanhanya golongan muda, baru
dan bersih.

Sayang, kenyataannya, saat ini justru muncul generasi koruptor. Nama-nama baru dengan nilai korupsi yang luar biasa jumlahnya. Anak-anak muda di usia tiga puluhan dengan korupsi bernilai ratusan miliar rupiah.

Lalu apa yang harus dilakukan? Apakah mesti dipotong satu generasi lagi? Sementara yang tersisa kini anak-anak dan remaja yang jugadikelilingi oleh “hantu” korupsi dengan wajah berbeda. Korupsi nilai, bocoran UN dan sebagainya. Mendadak masa depan Indonesia seolah begitu pucat.

Penganugerahan tokohperubahan Republika 2013 yang baru saja di selenggarakan menyalakan lagi harapan akan generasi muda masa depan.

Di tengah begitu banyak kekacauan, kericuhan, masih ada anak-anak muda yang peduli, yang berbuat dan tidak terjebak dalam jeratan korupsi dan budaya buruk yang menjangkiti sebagian besar bangsa Indonesia.

Ada “Dokter Sampah” Gamal Albinsaid, yang mengabdikan diri bagi masyarakat untuk kesehatan. Ia rela mengobati rakyat yang tak mampu dengan bayaran sampah. Dua kebaikan sekaligus, menolong kaum miskin dan juga mengatasi masalah sampah. Usianya masih muda, 24 tahun. Tidak hanya inspirasi bagi Indonesia, sang dokter juga menjadi inspirasi dunia karena ia mendapat penghargaan The Prince of Wales Young Sustainability Entrepreneurship First Winner 2014 langsung dari Pangeran Charles di Inggris.

Ada juga Ridwan Hasan Saputra, penggiat olimpiade dan science yang memunculkan anak-anak cerdas dari kalangan tidak mampu. Ia tidak hanya membangun generasi yang cerdas akal tapi juga cerdas spiritual. Ia bertekad mencetak generasi yang suatu saat membuat Indonesia mampu menciptakan sumber daya baru setelah kini begitu banyak sumber daya alam yang dikeruk bangsa asing.

Lalu Abraham Samad, pemimpin lembaga anti korupsi yang tegas dan banyak melakukan manuver berani dalam menumpas korupsi.

Sementara Iko Uwais, merupakan tokoh muda yang mengharumkan nama bela diri Indonesia di dunia Internasional. Nama lain yang muncul,Indra Sjafri, pelatih nasional yang mempersiapkan generasi muda Indonesia masuk ke kancah piala dunia. Timnas yang selalu menunjukkan ekspresi kegembiraan ketika mencetak goal dengan sujud syukur.

Nama-nama di atas memberi saya keyakinan, ada lebih banyak  generasi pelopor perubahan yang walau belum dikenali, saat ini berjuang bersama untuk kebaikan bangsa. Menjadi sumber inspirasisekaligus memberi denyut baru bagi masa depan Indonesia. *




by Asma Nadia


image by Google
Read Post | komentar

Janji Seorang Kader Dakwah

Senin, 21 April 2014


مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُواْ مَا عَاهَدُواْ ٱللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَّن يَنتَظِرُ وَمَا بَدَّلُواْ تَبْدِيلاً

Di antara orang orang mukmin itu ada orang orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada yang menunggu nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah janji nya. ( QS Al Ahzab : 23 )

Ikhwah Fillah,

Para mufassirin berbeda pendapat tentang kepada siapa ayat ini turun. Paling tidak ada 2 pendapat, yang pertama adalah ayat ini turun berkaitan dengan Anas Ibnu Nadhar, seperti dalam sebuah hadist dari Anas bin Malik yang di riwayatkan oleh Bukhari. Anas Ibnun Nadhar ini tidak mengikuti perang badar. Hal itu sangat menyedihkannya. 

Dia berkata : ” Aku tidak mengikuti perang yang pertama kali dilakukan oleh Rasulullah. Jika aku di berikan kesempatan oleh Allah untuk mengikuti perang berikutnya bersama Rasulullah, sungguh Dia kan melihat apa yang akan aku lakukan “. 

Akhirnya dia ikut dalam perang uhud, dan beliau menemui syahid pada perang uhud ini dengan kurang lebih 80 luka. tidak ada yang mengenali jenazahnya, kecuali saudara perempuannya , yang bernama Ruba’i binti Nadhar melalui ujung jarinya. 

Pendapat yang kedua adalah ayat ini turun berkaitan dengan Thalhah bin abi Ubaidillah.

Ikhwah Fillah, diantara orang orang mukmin ada orang orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah SWT……….dalam tafsirnya Ibnul Jauzi, mengutip ada 4 pendapat tentang “janji ” itu. Tentang apa yang mereka janjikan.

أحدها: أنهم عاهدوا ليلة العقبة على الإِسلام والنصرة
.
Yang pertama, sesungguhnya mereka berjanji pada malam Aqabah untuk istiqomah dalam Islam dan dalam menolong agama Allah. Itulah janji mereka untuk tetap dalam keislaman mereka. Tetap dalam jalan dakwah. 

Tetap dalam menolong agama Allah SWT.
Allah SWT berfirman :
 ” Wahai orang orang yang beriman, jadilah kamu penolong penolong agama Allah …..” 
( QS 61 : 14 )

والثاني: أنهم قوم لم يشهدوا بدراً، فعاهدوا الله أن لا يتأخَّروا بعدها
.
Yang kedua, mereka adalah kaum yang tidak hadir dalam perang badr, dan mereka berjanji kepada Allah agar tidak ketinggalan dalam perang setelahnya. Itulah janji mereka. Ketika mereka kehilangan satu kesempatan beramal sholeh, ketinggalan dalam Jihad, mereka kemudian berjanji untuk tidak akan pernah ketinggalan lagi.
 
والثالث: أنهم عاهدوا أن لا يفرُّوا إِذا لاقَواْ، فصَدَقوا
.
Yang ketiga , sesungguhnya mereka berjanji tidak akan lari dari medan Jihad ketika mereka bertemu dengan musuh, dan mereka menepatinya. Itulah janji  mereka. Tidak akan mundur kebelakang. tidak akan lari dari medan Jihad. tidak akan meninggalkan Dakwah.

Allah SWT berfirman :
“Dan sungguh mereka sebelum itu telah berjanji kepada allah, tidak akan berbalik ke belakang ( mundur ), dan perjanjian dengan Allah akan di minta pertanggung jawabannya ” ( QS Al Ahzab:15 )

والرابع: أنهم عاهدوا على البأساء والضرَّاء وحين البأس

Yang keempat, sesungguhnya mereka berjanji untuk tetap teguh dalam kemelaratan, penderitaan, dan dalam kesulitan. Karena ini tabiat jalan dakwah. Jalan dakwah itu tidak menjanjikan kemewahan. Tidak memberikan dunia dan harta. Tapi itulah jalan yang penuh dengan ibtila dan cobaan. Tapi, inilah sebaik baiknya jalan.

Allah SWT berfirman :
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang muslim?” (QS Fushshilat : 33)”

Itulah janji mereka kepada Allah SWT. Dan diantara mereka ada yang gugur….ada yang meninggal dalam menepati janjinya…al mautu ‘alas shidqi wal wafa….mereka mendapatkan kematian dalam keadaan memenuhi janjinya…meninggal di dalam jalan Jihad, gugur di dalam jalan dakwah…mereka itulah antara lain Hamzah r.a, Mush’ab ibn Umair, para ashaabu Rasulillah yang gugur dalam perang badar dan perang uhud….mereka itulah para mujahid mujahid dakwah…. di antara mereka ada yang menunggu nunggu……mereka menunggu satu di antara dua - apakah Syahid di jalan Allah SWT ataukah kemenangan dan pertolongan dari Allah SWT….. dan mereka bersabar di dalam jalan jihad itu, dan mereka bersabar di dalam jalan dakwah itu….dan mereka tidak pernah mengubah janjinya….agar Allah SWT memberikan balasan kepada orang orang yang benar itu karena kebenarannya……agar Allah SWT membalasnya dengan SyurgaNya…

Allah SWT berfiman :
” Sesungguhnya Allah SWT telah membeli dari orang orang mukmin itu, diri mereka dan harta mereka dengan Syurga untuk mereka….” ( QS 9 :  111 )

Itulah janji mereka kepada Allah SWT. Sebagai kader dakwah, maka mereka inilah yang juga menjadi tauladan kita. Maka, sudah selayaknya para kader dakwah pun berjanji kepada Allah SWT, bukan kepada murobbi mereka, bukan kepada para qiyadah mereka, bukan kepada pimpinan dakwah para ustadz ustadz mereka….tapi janji mereka kepada Allah SWT agar senantiasa ber’amal dalam rangka menolong syari’atNya dan menolong dakwahNya…..agar tidak pernah terlintas di dalam fikiran untuk meninggalkan jalan dakwah…..agar tetap istiqomah di dalam jalan dakwah ini…… untuk mendapatkan RidhoNya…untuk mendapatkan SyurgaNya…*
 
 
 
Read Post | komentar
 
© Copyright Indonesia Bangkit ! 2013 - Redesigned by @defio84 | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all