Pekan Ini PKS Putuskan Soal Koalisi

Selasa, 13 Mei 2014

Jakarta,  Beberapa partai politik sudah melabuhkan koalisi menyambut Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014. Namun Partai Keadilan Sejahtera (PKS) belum mau bicara banyak soal koalisi.

Lalu kapan PKS akan memutuskan labuhannya?

"Pekan ini, Insya Allah," kata Juru Bicara PKS Mardani Ali Sera kepada Metrotvnews.com, Jakarta, Selasa (13/5/2014).

Mardani tak mau membocorkan koalisi PKS lebih detail. Ia juga tak membantah pemberitaan yang menyebutkan PKS akan bergabung dengan Partai Gerindra yang mengusung Prabowo Subianto sebagai calon presiden.

Namun, Mardani menegaskan PKS tak menutup komunikasi dengan partai lain. [metrotvnews]
Read Post | komentar

Cegah Pedofil, Aher Godok Perda Ketahanan Keluarga

Bandung - Sejumlah kasus pelecahan seksual terhadap anak-anak terjadi di Jawa Barat. Selain Emon di Sukabumi, terdapat pula pelaku yang masih berusia anak di Cirebon.

Untuk mengantisipasi agar kejadian tersebut tidak kembali terulang, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan meminta masyarakat harus siap siaga. Kesiagaan meliputi orang tua dan guru.

"Anak-anak harus dijaga dengan baik, dipantau perkembangannya," ujar Heryawan kepada wartawan, Senin (12/5/2014).

Menurutnya, pedofil tergolong kejahatan tertutup yang sulit dideteksi. Hal ini sangat berbeda dibandingkan geng motor atau perkelahian pelajar.

"Tertutup, tahu-tahu ada korban," ucapnya.

Melihat kondisi tersebut, kata dia, harus disiapkan langkah antisipasi. Hal ini sangat penting untuk mencegah peristiwa serupa kembali terjadi.

Pihaknya akan merumuskan langkah-langkah strategis mencegah perilaku seksual terhadap anak-anak.

Dia menjelaskan, Pemprov sedang menggodok perda Ketahanan Keluarga. Selain di tingkat provinsi, aturan ini juga akan diterapkan di tingkat kabupaten/kota.

Selain itu, Perda ini juga diyakini mampu mencegah peredaran pornografi. Meski Kemenkominfo telah melakukan blokir terhadap situs porno, dia akui masih terdapat celah menuju web berbau porno itu.

Dia menilai banyak kata atau kalimat umum yang dipakai menjadi nama web site porno. Hal ini menyulitkan pelacakan.

"Bahkan ada juga dibuat seperti Twitter, ternyata isinya pornografi," pungkasnya. [inilah]
Read Post | komentar

Aher : Tunggu Saja Tanggal Mainnya

Bandung - Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengaku masih punya peluang untuk menjadi wakil masyarakat Jabar dalam ajang Pilpres. Pasalnya, iklim dunia politik sangat dinamis dan sulit untuk ditebak.

"Biasanya kan namanya politik selalu injury time, di mana-mana juga begitu," ujarnya kepada wartawan di Aston Primera Hotel, Senin (12/5/2014).

Politisi asal PKS ini mengacu pada ajang Pilgub Jabar pada 2013. Ketika itu, dirinya melakukan pendaftaran pada hari terakhir.

Menurutnya, peluang masih terbuka. Kini, tinggal menunggu panggilan dari Capres seperti Jokowi, Abu Rizal Bakrie, atau Prabowo.

"Tunggu saja tanggal mainnya," katanya.

Dia menilai setiap capres akan memilih wakil yang dapat memberikan nilai tambah. Dalam konteks pemenangan, sang wakil tersebut harus dapat mendongkrak raihan suara.

Selain itu dibutuhkan pula chemistri. Hal ini juga dianggap membuka peluang kemenangan lebih besar.

Aher mengakui saat ini PKS sedang giat membangun komunikasi demi menentukan arah koalisi. Namun demikian hasilnya belum dapat dideklarasikan.

Sementara partai politik lain sudah menentukan arah di antaranya PPP yang mendukung Prabowo. Demikian pula PKB yang diperkirakan merapat kepada Jokowi.

"Sudah keliatan dua poros, tinggal nunggu poros ketiga dan selanjutnya, akan muncul atau enggak," ucapnya.

Aher menyebut masyarakat Jabar sangat merindukan ada putra daerah yang masuk dalam kancah nasional. Hal ini sangat beralasan agar terjadi pembangunan di Jabar terutama di wilayah Selatan.

Namun demikian tokoh tersebut harus berani mewakafkan diri membangun negara. [inilah]
Read Post | komentar

Ini Perkiraan Perolehan Kursi Tiap Parpol di 33 Provinsi


KPU telah menetapkan hasil perolehan suara 12 partai politik dalam pemilu legislatif pada Jumat (9/5) lalu. Hasilnya, dari 10 parpol yang lolos ke Senayan, PDIP meraih suara tertinggi sebanyak 23.681.471 suara dan terkecil Hanura 6.579.498 suara.

Berdasarkan hasil penghitungan kursi dari data rekapitulasi yang sudah ditetapkan KPU, seperti dikutip Senin (12/5/2014), diketahui perolehan kursi terbanyak diraih PDIP dengan 109 kursi. Disusul Golkar 91 kursi, Gerindra 73 kursi, Demokrat 61 kursi, PAN 49 kursi, PKB 47 kursi, PKS 40 kursi, PPP 39 kursi, NasDem 35 kursi, dan Hanura 16 kursi

Ada 560 kursi di 77 dapil dalam 33 provinsi yang diperebutkan untuk caleg DPR RI. Berikut perkiraan perolehan kursi 10 parpol yang lolos ke Senayan di masing-masing provinsi tersebut berdasarkan dapil dan alokasi kursi yang tersedia:

1. Provinsi Aceh (2 dapil 13 kursi)
NasDem: 2 kursi, PKB: 1 kursi, PKS: 1 kursi, PDIP: 1 kursi, Golkar: 2 kursi, Gerindra: 2 kursi, Demokrat: 2 kursi, PAN: 1 kursi, PPP: 1 kursi.

2. Sumatera Utara (3 dapil, 30 kursi)
NasDem: 3 kursi, PKB: 1 kursi, PKS: 3 kursi, PDIP: 4 kursi, Golkar: 4 kursi, Gerindra: 4 kursi, Demokrat: 3 kursi, PAN: 3 kursi, PPP: 2 kursi, Hanura: 3 kursi.

3. Sumatera Barat (2 dapil, 14 kursi)
NasDem: 1 kursi, PKS: 2 kursi, PDIP: 2 kursi, Golkar: 2 kursi, Gerindra: 2 kursi, Demokrat: 2 kursi, PAN: 1 kursi, PPP: 2 kursi.

4. Riau (2 dapil, 11 kursi)
PKB: 1 kursi, PKS: 1 kursi, PDIP: 2 kursi, Golkar: 2 kursi: Gerindra: 2 kursi, Demokrat: 2 kursi, PAN: 1 kursi

5. Jambi: (1 dapil, 7 kursi)
PKB: 1 kursi, PDIP: 1 kursi, Golkar: 1 kursi, Gerindra: 1 kursi, Demokrat: 1 kursi, PAN: 1 kursi, PPP: 1 kursi.

6. Sumatera Selatan (2 dapil, 17 kursi)
NasDem: 1 kursi, PKB: 1 kursi, PKS: 2 kursi, PDIP: 3 kursi, Golkar: 3 kursi, Gerindra: 2 kursi, Demokrat: 2 kursi, PAN: 2 kursi, Hanura: 1 kursi.

7. Bengkulu (1 dapil, 4 kursi)
NasDem: 1 kursi, PDIP: 1 kursi, Gerindra: 1 kursi, PAN: 1 kursi.

8. Lampung (2 dapil, 18 kursi)
NasDem: 1 kursi, PKB: 2 kursi, PKS: 2 kursi, PDIP: 4 kursi, Golkar: 2 kursi, Gerindra: 2 kursi, Demokrat: 2 kursi, PAN: 2 kursi, Hanura: 1 kursi.

9. Bangka Belitung (1 dapil, 3 kursi)
PDIP: 1 kursi, Golkar: 1 kursi, Demokrat: 1 kursi.

10. Kepulauan Riau (1 dapil, 3 kursi)
NasDem: 1 kursi, PDIP: 1 kursi, PAN: 1 kursi.

11. DKI Jakarta (3 dapil, 21 kursi)
NasDem: 1 kursi, PKS: 3 kursi, PDIP: 6 kursi, Golkar: 3 kursi, Gerindra: 3 kursi, Demokrat: 2 kursi, PPP: 3 kursi.

12. Jawa Barat (11 dapil, 91 kursi)
NasDem: 1 kursi, PKB: 7 kursi, PKS: 11 kursi, PDIP: 18 kursi, Golkar: 17 kursi, Gerindra: 10 kursi, Demorkat: 9 kursi, PAN: 7 kursi, PPP: 7 kursi, Hanura: 4 kursi.

13. Jawa Tengah (10 dapil, 77 kursi)
NasDem: 5 kursi, PKB: 10 kursi, PKS: 4 kursi, PDIP: 18 kursi, Golkar: 11 kursi, Gerindra: 10 kursi, Demokrat: 4 kursi, PAN: 8 kursi, PPP: 7 kursi.

14. DI Yogyakarta (1 dapil, 8 kursi)
PKB: 1 kursi, PKS: 1 kursi, PDIP: 2 kursi, Golkar: 1 kursi, Gerindra: 1 kursi, Demokrat: 1 kursi, PAN: 1 kursi.

15. Jawa Timur (11 dapil, 87 kursi)
NasDem: 7 kursi, PKB: 15 kursi, PKS: 2 kursi, PDIP: 17 kursi, Golkar: 11 kursi, Gerindra: 11 kursi, Demokrat; 11 kursi, PAN: 7 kursi, PPP: 4 kursi, Hanura: 2 kursi.

16. Banten (3 dapil, 22 kursi)
NasDem: 1 kursi, PKB: 1 kursi, PKS: 2 kursi, PDIP: 4 kursi, Golkar: 3 kursi, Gerindra: 3 kursi, Demokrat: 2 kursi, PAN: 2 kursi, PPP: 3 kursi, Hanura: 1 kursi.

17. Bali (1 dapil, 9 kursi)
PDIP: 4 kursi, Golkar: 2 kursi, Gerindra: 1 kursi, Demokrat: 2 kursi.

18. NTB (1 dapil, 10 kursi)
Semua parpol dapat 1 kursi.

19. NTT (2 dapil, 13 kursi)
NasDem: 2 kursi, PDIP: 2 kursi, Golkar: 3 kursi, Gerindra: 2 kursi, Demokrat: 2 kursi, PAN: 1 kursi, Hanura 1 kursi.

20. Kalimantan Barat (1 dapil, 10 kursi)
NasDem: 1 kursi, PKB: 1 kursi, PDIP: 3 kursi, Golkar: 1 kursi, Gerindra: 1 kursi, Demorkat: 1 kursi, PAN: 1 kursi, PPP: 1 kursi.

21. Kalimantan Tengah (1 dapil, 6 kursi)
NasDem: 1 kursi, PDIP: 2 kursi, Golkar: 1 kursi, Gerindra: 1 kursi, PAN: 1 kursi.

22. Kalimantan Selatan (2 dapil, 11 kursi)
PKB: 2 kursi, PKS: 1 kursi, PDIP: 1 kursi, Golkar: 3 kursi, Gerindra: 2 kursi, PPP: 2 kursi.

23. Kalimantan Timur (1 dapil, 8 kursi)
NasDem: 1 kursi, PKS: 1 kursi, PDIP: 1 kursi, Golkar: 2 kursi, Gerindra: 1 kursi, Demokrat: 1 kursi, PPP: 1 kursi.

24. Sulawesi Utara (1 dapil, 6 kursi)
PDIP: 2 kursi, Golkar: 1 kursi, Gerindra: 1 kursi, Demokrat: 1 kursi, PAN: 1 kursi.

25. Sulawesi Tengah (1 dapil, 6 kursi)
NasDem: 1 kursi, PDIP: 1 kursi, Golkar: 1 kursi

26. Sulawesi Selatan (3 dapil, 24 kursi)
NasDem: 2 kursi, PKS: 2 kursi, PDIP: 2 kursi, Golkar: 5 kursi, Gerindra: 3 kursi, Demokrat: 3 kursi, PAN: 3 kursi, PPP: 3 kursi, Hanura: 1 kursi.

27. Sulawesi Tenggara (1 dapil, 5 kursi)
Golkar, Gerindra, Demokrat, PAN, PPP masing-masing 1 kursi.

28. Gorontalo (1 dapil, 3 kursi)
Golkar: 2 kursi, Gerindra 1 kursi.

29. Sulawesi Barat (1 dapil, 3 kursi)
Golkar, Gerindra, Demokrat masing-masing 1 kursi.

30. Maluku (1 dapil, 4 kursi)
PKB, PDIP, Golkar, Gerindra masing-masing 1 kursi.

31. Maluku Utara (1 dapil, 3 kursi)
PDIP, Golkar, PAN masing-masing 1 kursi.

32. Papua (1 dapil, 10 kursi)
NasDem: 1 kursi, PKB: 1 kursi, PKS: 1 kursi, PDIP: 2 kursi, Golkar: 1 kursi, Gerindra: 1 kursi, Demokrat: 2 kursi, PAN: 1 kursi.

33. Papua Barat (1 dapil, 3 kursi)
PDIP, Golkar, Demokrat masing-masing 1 kursi. [dtc]
Read Post | komentar

Pengamat : Konsep 'Revolusi Mental' Jokowi, Kering Ide

[JAKARTA] Pengamat politik dari Universitas Indonesia Said Salahudin menilai, konsep "revolusi mental" yang dicetuskan oleh Joko Widodo kering ide dan tidak ada pemikiran yang luar biasa dari seorang calon pemimpin bangsa.

"Konsep revolusi mental Jokowi itu kering ide. Cuma keren di judulnya saja. Tidak ada pemikiran yang 'maknyos' dari seorang calon pemimpin bangsa," ujar Said Salahudin dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.

Menurut dia, konsep "revolusi mental" itu kan cuma berisikan tentang unek-unek Jokowi dan tim pendukungnya saja.

"Itu sesuatu yang sudah biasa kita dengar. Mahasiswa semester I pun fasih kalau sekadar mereview masalah, mengutarakan kegalauan, dan mengutip pemikiran orang lain," ujar dia.

Gagasan besar Jokowi, lanjutnya, dari tema revolusi mental itu justru tidak keluar. Kalau yang dimaksud adalah soal perlunya paradigma, budaya politik, dan komitmen pemimpin itu kan sudah lama dibicarakan orang.

"Sudah sering kita dengar terkait perlunya paradigma, budaya politik, dan komitmen pemimpin," kata dia.

Kemudian terkait cara melakukannya dimulai dari diri sendiri, lingkungan keluarga, lingkungan kerja, dan terus ke lingkungan negara, itu pun sudah "khattam" dipelajari dari Aa' Gym sejak lama.

Sebelumnya, capres dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Joko Widodo mengatakan dalam pembuatan tulisan yang berjudul "Revolusi Mental" dirinya hanya membuat struktur dan poin-poinnya saja secara garis besar.

"Saya kan membuat strukturnya, poin-poinnya, kemudian kita rembug dalam tim, baru kita buat," ujar Joko Widodo kepada wartawan di Bandara Sultan Hasanudin, Makassar, Minggu (11/5). [suarapembaruan]
Read Post | komentar
 
© Copyright Indonesia Bangkit ! 2013 - Redesigned by @defio84 | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all