Ini dia Pahlawan Nasional dari Riau

Sabtu, 09 November 2013


Provinsi Riau hingga kini baru memiliki dua pahlawan nasional, yakni Tuanku Tambusai dan Sultan Syarif Kasim II. Kedua ditetapkan sebagai pahlawan nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI pada tanggal 11 Agustus 1997 dan 6 November 1998.

Sultan Syarif  Kasim II merupakan Raja Kesultanan Siak yang mendukung kemerdekaan Indonesia. Sedangkan Tuanku Tambusai merupakan tokoh Paderi asal Rokan Hulu yang berhasil mengusir Belanda dari wilayah Rokan Hulu. 

Mari sejenak kita napak tilasi riwayat perjuangan mereka :

Syarif Kasim Abdul Jalil Saifuddin
Sultan Syarif Kasim II

Yang Dipertuan Besar Syarif Kasim Abdul Jalil Saifuddin atau Sultan Syarif Kasim II (lahir di Siak Sri Indrapura, Riau, 1 Desember 1893 – meninggal di Rumbai, Pekanbaru, Riau, 23 April 1968 pada umur 74 tahun) adalah sultan ke-12 Kesultanan Siak. Ia dinobatkan sebagai sultan pada umur 21 tahun menggantikan ayahnya Sultan Syarif Hasyim. 

Sultan Syarif Kasim II merupakan seorang pendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tidak lama setelah proklamasi dia menyatakan Kesultanan Siak sebagai bagian wilayah Indonesia, dan dia menyumbang harta kekayaannya sejumlah 13 juta gulden untuk pemerintah republik (setara dengan 151 juta gulden atau € 69 juta Euro di tahun 2011). Bersama Sultan Serdang dia juga berusaha membujuk raja-raja di Sumatera Timur lainnya untuk turut memihak republik.




Tuanku  Tambusai
Tuanku Tambusai lahir di Dalu-dalu, nagari Tambusai, Rokan Hulu, Riau. Dalu-dalu merupakan salah satu desa pedagang Minangkabau yang didirikan di tepi sungai Sosah, anak sungai Rokan. Tuanku Tambusai memiliki nama kecil Muhammad Saleh, yang setelah pulang haji, dipanggilkan orang Tuanku Haji Muhammad Saleh.

Tuanku Tambusai merupakan anak dari pasangan perantau Minang, Tuanku Imam Maulana Kali dan Munah. Ayahnya berasal dari nagari Rambah dan merupakan seorang guru agama Islam. Oleh Raja Tambusai ayahnya diangkat menjadi imam dan kemudian menikah dengan perempuan setempat. Ibunya berasal dari nagari Tambusai yang bersuku Kandang Kopuh. Sesuai dengan tradisi Minang yang matrilineal, suku ini diturunkannya kepada Tuanku Tambusai. Sewaktu kecil Muhammad Saleh telah diajarkan ayahnya ilmu bela diri, termasuk ketangkasan menunggang kuda, dan tata cara bernegara.

Gerakan Paderi 
Untuk memperdalam ilmu agama, Tuanku Tambusai pergi belajar ke Bonjol dan Rao di Sumatera Barat. Disana beliau banyak belajar dengan ulama-ulama Islam yang berpaham Paderi, hingga dia mendapatkan gelar fakih. Ajaran Paderi begitu memikat dirinya, sehingga ajaran ini disebarkan pula di tanah kelahirannya. Disini ajarannya dengan cepat diterima luas oleh masyarakat, sehingga ia banyak mendapatkan pengikut. Semangatnya untuk menyebarkan dan melakukan pemurnian Islam, mengantarkannya untuk berperang mengislamkan masyarakat di tanah Batak yang masih banyak menganut pelbegu.

Melawan Belanda
Perjuangannya dimulai di daerah Rokan Hulu dan sekitarnya dengan pusat di Benteng Dalu-dalu. Kemudian ia melanjutkan perlawanan ke wilayah Natal pada tahun 1823. Tahun 1824, ia memimpin pasukan gabungan Dalu-dalu, Lubuksikaping, Padanglawas, Angkola, Mandailing, dan Natal untuk melawan Belanda. Dia sempat menunaikan ibadah haji dan juga diminta oleh Tuanku Imam Bonjol untuk mempelajari perkembangan Islam di Tanah Arab.

Dalam kurun waktu 15 tahun, Tuanku Tambusai cukup merepotkan pasukan Belanda, sehingga sering meminta bantuan pasukan dari Batavia. Berkat kecerdikannya, benteng Belanda Fort Amerongen dapat dihancurkan. Bonjol yang telah jatuh ke tangan Belanda dapat direbut kembali walaupun tidak bertahan lama. Tuanku Tambusai tidak saja menghadapi Belanda, tetapi juga sekaligus pasukan Raja Gedombang (regent Mandailing) dan Tumenggung Kartoredjo, yang berpihak kepada Belanda. Oleh Belanda beliau digelari “De Padrische Tijger van Rokan” (Harimau Paderi dari Rokan) karena amat sulit dikalahkan, tidak pernah menyerah, dan tidak mau berdamai dengan Belanda. Keteguhan sikapnya diperlihatkan dengan menolak ajakan Kolonel Elout untuk berdamai. Pada tanggal 28 Desember 1838, benteng Dalu-dalu jatuh ke tangan Belanda. Lewat pintu rahasia, ia meloloskan diri dari kepungan Belanda dan sekutu-sekutunya. Ia mengungsi dan wafat di Seremban, Negeri Sembilan, Malaysia pada tanggal 12 November 1882.

Karena jasa-jasanya menentang penjajahan Hindia-Belanda, pada tahun 1995 pemerintah mengangkat beliau sebagai pahlawan nasional.

Bangsa yang besar adalah bangsa yg menghargai jasa-jasa Pahlawannya.(def)

Sumber Rujukan : Wikipedia, Tribun News
Read Post | komentar

Ini Dia Capres PKS


Setelah diterpa banyak isu terkait kasus hukum, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) kini mulai membicarakan kandidat calon presiden dari internal partai untuk diusung dalam Pilpres 2014. Ada beberapa nama petinggi PKS yang disebut berpeluang menjadi capres. Siapa saja mereka? 

Wakil Sekretaris Jenderal DPP PKS Mahfudz Siddiq mengatakan, tradisi di PKS, capres ditetapkan melalui rapat Majelis Syuro. Kandidat yang biasanya dipertimbangkan menjadi capres adalah petinggi DPP, seperti Anis Matta, Untung Wahyono, dan Surahman Hidayat. 

"Tiga orang itu yang berpeluang dari unsur partai," ujar Mahfudz di Gedung Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat (8/11/2013).
Ketua Komisi I DPR itu menambahkan, tak hanya petinggi partai yang dipertimbangkan untuk diusung dalam pilpres. Kader PKS yang menjadi kepala daerah juga masuk bursa kandidat capres. Mereka ialah Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho. 

"Nama Aher muncul barang kali karena ada capres dengan pemikiran Jawa-Sunda. Ada Gatot dengan pikiran Jawa-Sumatera," ucap Mahfudz. 

Mahfudz menilai positif dengan adanya pembicaraan kandidat capres. Ia melihat kepercayaan publik terhadap PKS mulai tumbuh setelah berbagai gempuran kasus dugaan korupsi yang menjerat mantan petinggi PKS. 

"Ini bagus. Jadi, siapa pun orangnya nggak jadi masalah," kata Mahfudz.
Meski demikian, menurutnya, hingga kini, belum ada pembicaraan resmi mengenai capres. Namun, PKS memandang perlunya ada tokoh nasional yang kuat untuk bisa membantu mendongkrak elektabilitas PKS.[kompas]
Read Post | komentar

PKS Batam: Anis Matta, Soekarno Muda dari Timur

Kedatangan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta beserta rombongan ke Provinsi Kepulauan Riau, Sabtu (9/11) membawa semangat dan harapan bagi para kader baik di Batam dan kota/ kabupaten lain.

"Kedatangan Beliau sudah lama ditunggu oleh kader di Kepri khususnya Batam. Dengan kehadirannya diharapkan akan membawa harapan dan semangat baru para kader," kata Ketua DPD PKS Kota Batam, Taufik Hermawan, Sabtu (9/11).

Taufik mengatakan kader PKS di Batam menunggu secara langsung Taujih Pemenangan tiga besar 'Soekarno Muda' dari Timur itu.
"Optimisme sesungguhnya tiga besar bukan mimpi di siang bolong namun kenyataan dengan syarat kerja keras dengan karya-karya besar dan kerja ikhlas," kata dia.

Menurut Taufik, Indonesia butuh pemimpin muda yang visioner sekaligus mampu menjadi motivator untuk Indonesia yang lebih baik. "Kami melihat kriteria tersebut ada pada sosok seorang Anis Matta," kata Taufik.

Presiden PKS Anis Matta dijadwalkan akan mengikuti acara Dialog Kebangsaan yang bertemakan "Mancari Pahlawan Indonesia" bersama para tokoh masyarakat dan ormas.
"Acara tersebut nantinya dapat 'menjual' Ustadz Anis Matta kepada seluruh stake holder Batam seperti akademisi, pengusaha, Ormas dan tokoh masyarakat," kata dia.

Disamping itu kata Taufik, selama di Batam Presiden PKS Anis Matta juga dijadwalkan akan mengisi acara konsolidasi struktur, kader dan simpatisan PKS. "Target massa yang hadir sekitar 2.000 orang," katanya.

Taufik menegaskan acara konsolidasi yang akan dilangsungkan di Hotel Harmoni One, Batam tersebut akan dijadikan sebagai Kebulatan tekad pemenangan 3 besar oleh seluruh ketua DPD PKS di Kepri yang langsung akan dilakukan Presiden PKS dan DPD Batam.
"Batam sebagai pusat suara lebih dari 60 persen di Kepri harus menjadi 'leader' karena jika menang di Batam maka akan memberi dampak besar terhadap kemenangan 3 besar di Kepri," kata Taufik.[ROL]

Read Post | komentar

PKS Jateng Santuni Janda Pahlawan


SEMARANG—Menyambut Hari Pahlawan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKS Jawa Tengah akan memberikan santunan kepada para janda pahlawan di Jateng. Rencananya agenda penyerahan santunan kepada janda pahlawan dan piagam untuk pahlawan itu akan dilaksanakan Ahad (10/11) mendatang sekaligus dirangkaikan peringatan Hari Pahlawan 2013.

Menurut Sekretaris Umum DPW PKS Jateng, Ahmadi, pemberian santunan kepada janda Pahlawan itu sebagai bentuk kepedulian PKS atas jasa para pahlawan yang telah mengorbankan dirinya untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

“Kita memberikan 10 piagam penghargaan untuk para pahlawan yang telah gugur memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, dan dalam hal ini piagam dan santunan diterima oleh para istri atau janda pahlawan tersebut,” kata Ahmadi.

Ahmadi mengharapkan, penghargaan kepada para pahlawan mampu memberikan motivasi dan inspirasi kepada generasi penerus untuk melanjutkan jiwa kepahlawanan memberikan kontribusi yang terbaik bagi bangsa Indonesia.

“Para pahlawan tersebut di zamannya telah menorehkan tinta emas kemerdekaan, sehingga diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi kami, PKS, dan juga kepada segenap kaum muda bangsa Indonesia untuk mengikuti jejak – jejak kepahlawanan tersebut,” tandas wakil Ketua DPRD Kota Semarang ini.

Rencananya, imbuh Ahmadi, pemberian santunan dan piagam kepahlawanan tersebut diberikan bertepatan dengan hari Pahlawan yang jatuh pada hari Ahad (10/11) mendatang. Agenda tersebut dirangkaikan dengan berbagai agenda lainnya yang bertajuk Napak Tilas Hari Pahlawan PKS Jateng di Gelanggang Olahraga (GOR) Tri Lomba Juang, Semarang.

“Selain agenda penyerahan santunan, juga ada beberapa agenda lainnya, yaitu parade kepahlawanan dengan konvoi masing–masing kecamatan di Semarang, juga ada senam sehat dan ikrar hari Pahlawan.
Semua agenda tersebut dilaksanakan hari Ahad pagi, mulai pukul 06.30 WIB sampai selesai,” pungkas Ahmadi.[tajuk.co]


Read Post | komentar

Ini Bukti Indonesia Beri Keleluasaan kepada AS untuk Menyadap

Indonesia dinilai memberikan kesempatan kepada Amerika Serikat untuk melakukan aktivitas penyadapan demi mendapatkan informasi-informasi penting dari petinggi negeri ini.

Buktinya, keberadaan kantor Kedutaan Besar AS di Jakarta, jika ditarik lurus ke Istana Negara, hanya berjarak sekitar 500 meter.

"Apakah ini tidak memberikan ruang (kepada AS) untuk melakukan penyadapan rapat-rapat penting negara yang dilakukan di Istana Negara?" ungkap Jeppri F Silalahi dari Indonesia Law Reform Institute dalam keterangan pers yang diterima malam ini (Jumat, 8/11).

"Secepatnya kantor Kedubes AS harus dipindah yang berjarak jauh dari kantor lembaga-lembaga negara," sambungnya.

Selain itu, pemerintah dan DPR tidak pernah memikirkan membuat aturan hukum yang tegas sebagi acuan petugas atau aparat negara dalam memproteksi keamanan negara dari ancaman kegiatan spionase termasuk penyadapan dan sanksi bagi kegiatan spionase yang dilakukan negara lain di Indonesia. [rmol]
Read Post | komentar
 
© Copyright Indonesia Bangkit ! 2013 - Redesigned by @defio84 | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all