Ternyata, PKS dimana-mana sama

Kamis, 28 November 2013

Kejadiannya Jumat malam sabtu lalu (26 November). Sepulang kerja, ada teman satu tempat kerja yang mengajak untuk maen futsal di salah satu GOR di kota Rangkasbitung, Lebak Banten.

Malamnya, sesuai janji saya datang ke lokasi yang dimaksud. Lapangan futsal GOR Ona, Rangkasbitung. Sesampai disana, sudah ada beberapa orang berkumpul melakukan pemanasan.

Dari gaya pakaian yang mereka kenakan, mereka sepertinya bukan pemain profesional, atau pemain futsal (bola) profesional. Kenapa? Sebab kebanyakan diantara mereka maen futsal pakai celana panjang. Meski ada juga yang pakai celana pendek.

Setelah dua jam lamanya maen futsal, akhirnya kelar juga latihan di malam itu. Kami tak langsung pulang. Tapi ngobrol-ngobrol melepas lelah dulu. Baru kemudian, saat nongkrong-ngobrol itu terbongkarlah rahasia dibalik latihan futsal itu. Semuanya menjadi jelas sesudah itu.

Rupanya, latihan itu diagendakan oleh PKS. Yah, Partai Keadilan Sejahtera. Tepatnya DPD PKS Lebak. Ini sudah rutin dilakukan sejak dulu. Yang ikut latihan adalah kader PKS. Makanya mereka pake celana panjang. Inilah salah satu ciri mereka; futsal pakai celana panjang. Katanya, menutup aurat.

Lalu yang tidak pake celana panjang? Ada beberapa diantara kader PKS yang ngajak temannya. Nah, meski mereka tidak pakai celana panjang, mereka tetap dibolehkan ikut latihan kok. Jadi latihan itu tidak hanya untuk kader saja. Terbuka untuk umum.


PKS sama saja dimana-mana

Ternyata, PKS dimana-mana sama saja. Peduli dengan kaum muda. Peduli dengan olahraga. Yah, PKS bukan sekedar partai politik yang mengurusi masalah politik melulu. PKS mengerti betul pentingnya kualitas kader mereka. Tidak hanya masalah pengetahuan politik (fikriyah), atau agama (ruhiyah) saja. Tapi PKS peduli juga dengan kualitas fisik (jasadiyah) kadernya. Makanya, PKS selalu mengagendakan tarbiyah jasadiyah (fisik) kadernya. Salah satunya adalah dengan latihan futsal ini.

Kenapa saya katakan dimana-mana saja? Sebab sebelum ini, di kota dimana saya kuliah (Padang/ 4 tahun 10 bulan) dan tempat kerja saya sebelum ini (Pasaman Barat/ 2 tahun), saya juga menemukan fenomena ini. Ada jadwal rutin bagi kader PKS untuk berolahraga (riyadhah) khususnya maen bola.

Kalau di Padang, jadwal maen futsal hari Sabtu dan Minggu di GOR Adzkia Padang mulai pukul 06.30 – 10.00 WIB. Ada dua lapangan futsal tapi berlantai futsal. Lumayan ramai karena masih termasuk pusat kota. Tak jarang, latihan itu dihadiri oleh petinggi DPD PKS Padang dan DPW PKS Sumatera. Bahkan pernah waktu itu, Bapak Mahyeldi Ansharullah, wakil walikota Padang yang saat ini mencalonkan sebagai walikota Padang 2014 (sudah memenangi/unggul pada pilkada putaran 1) sering ikut latihan sepakbola.


Sedangkan kalau di Pasaman Barat, jadwal maen bola adalah hari Minggu pukul 07.00-09.00 WIB. Berbeda dengan di Padang, disana latihannya di lapangan besar. Lapangan rumput Lumayan ramai juga yang ikut. Bahkan sampai dua trip. Anak-anak sekitar pun ikut dalam latihan ini. Berarti ada sekitar 40-an orang yang berkumpul di lapangan Padang Hijau ini. Tak hanya mereka yang maen bola saja yang hadir, tetapi para orang tua juga ikut menonton anak-anak mereka maen bola.



PKS Emang Beda !

PKS emang beda. Tak sekedar partai. PKS peduli dengan kadernya. Tak hanya saat mendekati pemilu saja partai ini aktif. Bahkan saat masih jauh dengan prosesi demokrasi pun, partai ini selalu ada kegiatan untuk kadernya.

Bahkan seandainya PKS kalah dalam pilkada atau pesta demokrasi di daerah mana, kegiatan riyadhah untuk kadernya semacam ini akan terus dan tetap ada dan bertahan.

Dengan demikian, kader PKS merasa “diperhatikan”. Bukan sekedar diperhatikan ketika ada yang ingin diminta dari kadernya.

Beda dengan partai lain. Saya pernah merasakan berbaju kuning lalu berubah menjadi hijau dengan bintangnya saat SMP dulu. Lalu berubah menjadi merah dengan moncong putihnya, bahkan hampir mendekati maniak saat itu. Tapi saya tak menemui diketiga warna itu seperti saya menemukan ‘sesuatu’ di PKS. Ini yang membuat saya sejak 7 tahun lalu hingga sekarang memilih tetap bergabung dengan partai bernomor 3 ini.

Karena kesehatan jasmani, dan kebugaran mutlak diperlukan dalam mengemban amanah dakwah, untuk menjalankan tugas-tugas organisasi (wajihah). Ketiadaan kesehatan jasmani dan kebugaran, akan menghambat amanah dan dakwah. Kerja-kerja dakwah yang berat, hanya akan mampu ditopang oleh kader yang kuat.

“Allah lebih mencintai mukmin yang kuat daripada mukmin yang lemah…” Hadist ini benar-benar diperhatikan oleh (kader) PKS. Karena itu, setiap kader PKS senantiasa memenuhi syarat agar dicintai oleh Allah.

Semoga kader PKS tetap dan semakin istiqamah dalam menjaga kekuatan kesehatan jasmani (jasadiyah) mereka, dengan tidak melupakan kekuatan ruhiyah dan fikriyah. Sehingga, kerja dakwah dan organisasi dapat diselesaikan dengan maksimal. Agar dapat memenangkan dakwah di bumi Indonesia ini. [kompasiana]

Oleh Supadilah*

Kader PKS Lebak, Banten. Pindahan dari Pasaman Barat, Sumatera Barat. Sebelumnya dari Padang (kuliah). Asal Jambi (SD-SMP-SMA). Lahir di Lampung pada 10 November 1987.

Read Post | komentar

PKS Tolak Kenaikan Ongkos Haji

Jakarta (27/11) – Pemerintah berencana menaikkan besaran setoran awal Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) pada 2014. Rencana kenaikan setoran awal haji mendapat respon negatif dari DPR. 

Wakil ketua komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) Ledia Hanifa membantah telah mengamini rencana Pemerintah untuk menaikkan besaran setoran awal haji pada 2014.

“Kami tak bisa mengatakan menerima atau menolak sesuatu yang bahkan belum dijadikan pembicaraan antara pemerintah dan DPR. Harus ada pembahasan yang lebih mendalam mengenai rencana kenaikan setoran awal BPIH ini,” ujar ledia, rabu (27/11).

Pemerintah lewat Kementrian Agama berdalih bahwa kebijakan ini akan mempermudah mereka mengatur segala hal terkait penyelenggaraan haji. Kenaikan setoran awal BPIH ini diyakini tidak akan memberatkan jamaah. Hal ini justru akan membuat antrian jamaah lebih sedikit. Terkait hal ini, Ledia Hanifa kembali menyanggahnya.

“Kalau dasarnya untuk memperpendek antrian, menaikkan setoran awal BPIH bukan satu-satunya jalan. Perbaikan sistem lebih utama,” sanggahnya.

Lebih lanjut Ledia Hanifa mengajukan keberatannya jika kenaikan setoran awal BPIH dijadikan satu-satunya kriteria untuk menyaring mereka yang ingin menunaikan ibadah haji. Artinya, hanya orang yang benar-benar mampu secara materi yang boleh mendaftarkan diri untuk berhaji.

“Pemerintah diskriminatif jika menjadikan setoran awal BPIH sebagai dasar untuk menentukan siapa yang berhak menunaikan ibadah haji. Kemampuan untuk menunaikan ibadah haji bukan hanya soal kemampuan materi. Selain itu faktor kesehatan dan kondisi psikologis seseorang harus dipertimbangkan, ini saja belum ada solusinya,” papar Anggota DPR yang baru saja melakukan kunjungan kerja pengawasan haji di Arab Saudi ini.[pks.or.id]

Read Post | komentar

Badan Intelejen Mesir Berhasil Ungkap Spionase Mossad Israel

Badan intelejen Mesir berhasil mengungkap aksi mata-mata jaringan badan intelejen Israel di berbagai kota besar di Mesir. 

Dalam keterangannya, pihak Mabahits Mesir menyatakan sebanyak 17 orang yang berasal dari berbagai negara menjadi agen spionase Israel di Mesir berhasil diamankan.

Mereka tergabung dalam 3 jaringan kelompok yang berhubungan langsung dengan Badan intelijen Israel ‘Mossad’. Menurut pihak berwenang Mesir, beberapa orang diantaranya mendapat perlindungan diplomasi dari kedutaan besar negaranya di Mesir.

Seperti dilansir kantor berita Al Rai Kuwait dari sumber keamanan Mesir, “jaringan tersebut mengumpulkan informasi mengenai situasi ekonomi di Mesir dan pergerakan di jalanan Mesir, serta informasi keamanan dan militer Mesir terutama di wilayah semenanjung Sinai selama periode terakhir.”

Selain itu mereka juga mengumpulkan gambar-gambar instalasi militer dan kendaraan lapis baja yang kini sedang ditempatkan di jalan-jalan Mesir, beserta laporan sejumlah peralatan modern yang kini dimiliki oleh Mesir. [eramuslim]
Read Post | komentar

Prof. Romli : KPK tak Berani Sentuh Boediono dan SBY

Ahli hukum pidana Romli Atmasasmita menegaskan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah memiliki bukti yang cukup dalam kasus pengucuran fasilitas pendanaan jangka pendek (FPJP) Bank Century.

"Kasus ini sudah terang benderang, tidak perlu muter-muter, kita ada presedennya. Teori sudah tidak laku. Dewan Gubernur BI tangung jawabnya jelas, kolektif kolegial," ujar Romli dalam rapat dengan Timwas Century, di Gedung DPR, Senayan, Rabu (27/11/2013).

Dalam kasus Century, lanjut dia, KPK sudah memegang seluruh datanya sehingga alur penyelidikannya sudah jelas. Namun KPK hingga saat ini belum bergerak dan hanya berkutat dalam permasalahan yang sama.

Dalam kasus Century sudah sangat jelas siapa saja pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam pencairan FPJP tersebut. Sebab seluruh keputusan yang dilakukan harus didasari atas keputusan kolektif kolegial.

"Kalau kita lihat dari penanggung jawab di BI ya gubernur BI, di LPS ya presiden. Karena pimpinan LPS bertanggung jawab pada presiden. Ini saya bicara sesuai aturan, baca saja UU LPS," jelasnya.

Selain itu, jika dilihat alur pihak yang paling bertanggung jawab dalam kebijakan ini adalah gubernur BI, presiden, dan menteri keuangan. Namun hal itu seakan masih belum disentuh oleh KPK sampai saat ini.

"Cuma satu, keberanian tidak ada. Bagaimana KPK meminta BPK investigatif, tapi tetap tidak bergerak," tandasnya. [inilah]
Read Post | komentar

Setelah Polwan, Politisi PKS ini Kini Desak TNI Wanita Boleh Berjilbab

Rabu, 27 November 2013

Jakarta - Wakil Ketua Komisi III DPR dari Fraksi PKS, Almuzzammil Yusuf mengapresiasi langkah Polri yang mengizinkan Polwan berjilbab. Kini Muzzamil mendesak agar Mabes TNI juga membolehkan anggota TNI wanita mengenakan jilbab.

"Sudah saatnya, Panglima TNI, Jenderal Moeldoko mencabut pelarangan seragam berjilbab bagi TNI wanita," desak politisi PKS asal Lampung ini dalam siaran pers melalui surat elektronik, Rabu (27/11/2013).

Desakan agar anggota TNI wanita boleh berjilbab, lanjut Muzzammil, sudah pernah disampaikannya ketika menjadi anggota Komisi I DPR periode lalu kepada Panglima TNI saat itu.

"Namun, jawaban diplomatis Panglima TNI waktu itu adalah sedang dikaji oleh pimpinan TNI. Sampai sekarang kami belum tahu sampai dimana kajiannya?" tanyanya.

Menurut Muzzammil, saat ini bukan zamannya lagi alergi dengan jilbab seperti Orde Baru yang lalu. TNI dan Polri harus menjadi yang terdepan dalam menjunjung tinggi hukum dan HAM.

"Alergi jilbab itu jadul seperti Orde Baru. Kini zamannya reformasi, hukum dan HAM sudah dilindungi dalam Konstitusi. Pasal 28E Ayat 1 menyebutkan, setiap orang bebas memeluk agama dan beribadah menurut agamanya," paparnya.

Keinginan anggota TNI muslimah untuk mengenakan jilbab, tambah Muzzammil, jumlahnya tidak sedikit. Mereka berharap ada perubahan kebijakan mengenai seragam TNI bagi wanita.

"Keinginan mereka belum terealisasi sampai saat ini karena belum ada peraturan tertulis di TNI yang membolehkannya berjilbab, kecuali jika berdinas di Aceh," tuturnya.

Muzzamil berharap agar Panglima TNI secepatnya mengizinkan wanita TNI boleh menggunakan seragam jilbab dan memasukkannya dalam peraturan seragam wanita TNI. Masyarakat juga diharapkan turut mendukung para anggota TNI wanita yang ingin berjilbab.

"Mari kita tunjukan solidaritas dukungan kita kepada mereka agar Panglima TNI mengeluarkan peraturan dibolehkannya anggota TNI wanita mengenakan jilbab," tutupnya. [detik]
Read Post | komentar

Ratusan Orang Eropa Direkrut Jadi Sukarelawan Militer Israel

INGGRIS - Euro-Mid Observer for Human Rights akan merilis laporan detil tentang ratusan orang Eropa yang menjadi tentara sukarelawan di kemiliteran Israel, dan mereka ikut membunuh warga sipil Palestina di Jalur Gaza.

Menurut laporan tersebut, para sukarelawan itu direkrut oleh kelompok-kelompok zionis dari kalangan Yahudi dan Kristiani sayap kiri. Salah satu kelompok yang disebut dalam laporan itu adalah organisasi Mahal yang berbasis di London. Organisasi ini sudah 10 tahun melakukan perekrutan.

World Bulletin mengutip Middle East Monitor yang menyebutkan bahwa berdasarkan laporan Euro-Mid, organisasi-organisasi perekrut menargetkan anak-anak muda, lelaki berusia dibawah 24 tahun dan perempuan berusia dibawah 21 tahun. Perekrutan dilakukan melalui program-program pendidikan yang berlangsung paling lama sekira 18 bulan.


Disebutkan pula bahwa ribuan sukarelawan yang direkrut, berasal dari 40 negara, kebanyakan dari negara Eropa. Para sukarelawan itu bergabung dengan militer Israel dan tak satu pun dari sukarelawan tersebut diminta pertanggung jawaban atau diselidiki oleh negara asalnya.

Laporan Euro-Mid juga menyebut sebuah organisasi di Norwegia yang menawarkan uang, apartemen dan tiket pulang pergi setiap tahun bagi para sukarelawan. Organisasi ini ditengarai sudah merekrut sekira 5.000 orang.

Sebuah rekaman video yang dirilis Euro-Mid menayangkan seorang perempuan Ukraina yang memberikan testimoninya secara langsung di televisi bahwa ia sudah menjadi sukarelawan untuk militer Israel, dan ikut membunuh anak-anak Palestina.

Jika laporan ini benar, perekrutan semacam ini termasuk pelanggaran terhadap hukum internasional. [tajuk]
Read Post | komentar

Dan Iltizam Kita pun Bisa Melemah


Abu Ubaidah

Namanya adalah Amir bin Abdullah bin Jarrah. Mungkin Anda mengenalnya dengan nama Abu Ubaidah. Salah satu dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga. 

Juga salah satu kandidat kuat sebagai khalifah sepeninggal Rasulullah, meski kemudian demi kemaslahatan kaum muslimin dia membaiat Abu Bakar sebagai khalifah. Rasulullah memberi gelar Abu Ubaidah sebagai Aminul Ummat (kepercayaan ummat).

Selama karirnya sebagai da’i dan panglima perang, ketaatan Abu Ubaidah terhadap qiyadahnya begitu mempesona. Tidak pernah perintah atasan ditentangnya. Tidak hanya perintah Rasulullah, tapi juga perintah Abu Bakar, dan juga Umar, dua khalifah yang mulia. 

Dan selama hidupnya tercatat hanya sekali Abu Ubaidah membantah perintah atasan, yaitu ketika Umar ra memeirntahkannya meninggalkan pasukan di Syam karena Umar mengkhawatirkannya terjangkit penyakit Tha’un yang sedang mewabah. Penolakan penuh tangis dari Abu Ubaidah itu bukan karena ketidaktaatan, akan tetapi karena keinginannya yang kuat untuk itsar serta tanggungjawabnya yang begitu besar terhadap


Saat itu menjelang Perang Uhud. Dua pendapat yang berbeda dalam menentukan strategi menghadapi musuh sempat mengemuka di antara kaum muslimin.

Sebagian menginginkan untuk keluar dari Madinah dan menyambut musuh. Sedangkan Rasulullah SAW berdasarkan mimpinya, menginginkan agar pasukannya bertahan di dalam kota. Musyawarahpun digelar, dan akhirnya diputuskan untuk keluar dari kota dan menyambut musuh sebagaimana keinginan para sahabat.

Kita tahu bahwa dalam peperangan itu –yang strateginya ditetapkan dengan syura’- Rasulullah mengalami kekalahan, bebrapa sahabat syahid, dan Rasulullah mengalami luka-luka. Kita juga tahu, perang itu menyisakan banyak kisah dan pelajaran sangat berharga bagi kaum muslimin.

Adalah Abdullah bin ‘Ubay, yang sejak musyawarah mati-matian mendukung pendapat Rasulullah untuk bertahan di dalam kota. Ketika pendapatnya tidak diakomodir, bermanuverlah dia. Beberapa provokasi diluncurkan, dan sepertiga pasukan Rasulullah mundur, meninggalkan Rasulullah, kemudian menyempal pergi mengikuti Abdullah bin ‘Ubay, sang munafik.

Satu Fragmen di Perang Khaibar

Saat itu Rasulullah sedang membagikan ghanimah, setelah menang dalam perang melawan Yahudi di daerah Khaibar. Tiba-tiba seseorang berkata lantang terhadap Rasulullah, “Ya Rasulullah, bertakwalah engkau kepada Alloh...” Ia marah, karena Rasulullah memerintahkan agar ghanimah dibagi juga kepada rombongan Ja’far bin Abu Thalib yang baru pulang dari Habasyah setelah hijrah selama 8 tahun, meski rombongan itu tidak ikut perang Khaibar.

"Celaka engkau, jika bukan aku yang bertakwa, lalu siapa lagi?” Ujar Rasulullah menanggapi protes tidak santun dari seorang Arab Badui itu.

Dinamika Itu Akan Selalu Ada

Dalam sebuah perjuangan, dan dalam sebuah barisan, pasti akan ada dinamika yang merupakan cara Alloh untuk mentarbiyah para mujahid. Baik pada jaman Rosulullah, maupun dalam konteks kekinian. Perjalanan panjang dan berliku sebuah harokah dakwah seakan menjadi filter, siapa orang yang benar-benar tulus memperjuangkan dakwah, dan siapa yang hanya menjadi penumpang gelap dalam gerbong panjang kereta dakwah ini. Dalam sebuah perjuangan, akan ada Abu Ubaidah dan beberapa sahabat utama Rosulullah lainnya, tapi juga akan ada Abdullah bin ‘Ubay maupun seorang Arab Badui penentang Rasulullah di perang Khaibar yang menurut DR. Yusuf Qardhawi merupakan cikal bakal paham khawarij sang pembangkang dan pembunuh Ali Ra tersebut.

Akhir-akhir ini, di tengah pertempuran politik yang begitu dahsyat, pergulatan internal barisan da’wah perlahan-lahan mulai menyeruak. Begitu perhatiannya media massa dalam mencari kelemahan dan mengomentari dengan nada negatif setiap gerak yang dilakukan para qiyadah da’wah yang sedang beradu strategi di ranah siyasah, perlahan-lahan membuat beberapa orang di dalam barisan dakwah mulai goyah. Yang memang dari dulu agak antipati, seakan menemukan alasan untuk membenarkan semua sangkaannya. Yang dulunya ragu-ragu, menjadi semakin mantap untuk menjauh. Yang dulunya tsiqoh, sedikit demi sedikit mulai diliputi keraguan terhadap ikhlasnya dakwah dalam berjuang. Meski masih ada yang tetep kekeuh tsiqoh terhadap sepak terjang qiyadah dakwah ini.

“... mereka mendustakan terhadap apa-apa yang belum mengetahuinya dengan sempurna, padahal belum datang kepada mereka penjelasannya....” (Yunus :39)

Ah, mungkinkah memang seperti ini tabiat perjuangan itu?

Ketika Rosululloh SAW berkhutbah sewaktu Haji Wada’, dihadiri oleh 100.000 jamaah kaum muslimin. Dan konon, sahabat-sahabat utama Rasululloh saat itu hanya sekitar 300 orang!

Mungkinkah tabiat dakwah memang seperti itu? Para pejuang akan berjumlah sedikit dan selayaknya “Ashabul Kahfi”, mereka akan jadi orang terasing di tengah kebisingan jaman?

Entahlah. Saya lebih tertarik untuk menasehati diri saya sendiri dengan mencari penyebab menurunnya atau bahkan hilangnya komitmen perjuangan seseorang.

Penyebab Lemahnya Iltizam (Komitmen)

1. Jika seorang muslim banyak menjalin hubungan dengan orang-orang yang lemah dalam ber-iltizam, apalagi orang tersebut terlanjur difigurkannya, maka boleh jadi sikap itu akan menulari dirinya. Karena itu ajaran Islam menekankan pentingnya melakukan keteladanan yang baik serta mengecam contoh yang buruk.

Suatu hari Umar Bin Khattab Ra melihat Thalhah bin Ubaidillah mengenakan pakaian yang dicelup (berwarna) pada saat dia ihram.

Maka Umar bertanya kepada Thalhah, “Mengapa kamu mengenakan baju yang dicelup seperti ini wahai Thalhah?”

“Wahai Amirul Mu’minin”, jawab Thalhah, “Pakaian ini bukan sengaja saya celup, melainkan akibat terkena lumpur”.

Umar pun berkata, “Wahai Thalhah, sesungguhnya kamu ini dijadikan panutan oleh orang lain. Yang aku khawatirkan sekiranya ada orang yang bodoh melihat pakaian ini niscaya ia akan mengatakan bahwa Thalhah bin Ubaidillah memakai pakaian yang dicelup pada waktu ihram. Karena itu, jangan lagi kamu kenakan pakaian seperti ini.” (HR Malik, Ahmad, dan Baihaqi)

2. Turunnya keimanan seorang muslim bisa menjadi sebab lemah atau hilangnya iltizam, sebab keimanan merupakan sumber kekuatan serta penjaga dan pemelihara konsistensi dirinya terhadap ajaran agamanya.

“Seorang pezina ketika berzina bukanlah seorang mukmin, seorang pencuri ketika mencuri bukanlah seorang mukmin, dan seorang peminum arak ketika meminum arak bukanlah seorang mukmin.” (HR Bukhari)

Secara singkat, maksud hadist di atas adalah seseorang tidak akan melakukan perbuatan maksiat jika dalam dadanya masih ada iman yang sempurna. (Fathul Baari, 12/60)

3. Kebiasaan menanggapi hal-hal yang tidak jelas atau sybhat dapat pula menghancurkan iltizam seorang aktivis dakwah. Karena hal-hal yang tidak jelas itu umumnya berasal dari setan maka sesungguhnya hal itu tidak pernah akan membawa manfaat apapun.

4. Dapat juga karena tidak adanya pantauan dari orang lain dapat mengakibatkan lemahnya dan hilangnya komitmen. Karenanya Rosululloh selalu memantau gerak-gerik dan aktivitas para sahabatnya.

5. Mungkin juga disebabkan karena kita lalai terhadap dampak-dampak buruk dari hilangnya iltizam atau komitmen keislaman dan dakwah kita.

Sesungguhnya paling tidak masih ada 5 penyebab lagi penyebab lemahnya Iltizam. Mungkin anda bisa mencari sendiri di buku “Penyebab Gagalnya Dakwah” Jilid I Tulisan DR. Sayyid M. Nuh Bab Dha’f Aw Talaasyii Al Iltizaam.

Semoga kita dijadikan Alloh sebagai orang-orang yang senantiasa teguh dalam perjuangan dakwah ini, karena Alloh telah menjamin kemenangan Islam di akhir zaman, tapi tidak pernah menjamin kita untuk menjadi bagian dari pemenangan Islam itu.

Allohu a’lam

Yaa muqolibal Quluub
Tsabbit Quluubana ‘ala diinika wa Tho’aatika
Tsabbit quluubana ‘ala da’watika fii sabiilika

[kasurau]

Read Post | komentar
 
© Copyright Indonesia Bangkit ! 2013 - Redesigned by @defio84 | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all