Tampilkan postingan dengan label Anis Matta Ways. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anis Matta Ways. Tampilkan semua postingan

Anis Matta : Rakyat Sudah Menjatuhkan Pilihan, Harus Dihormati

Senin, 12 Mei 2014

Alhamdulillah, proses rekap pileg telah selesai. Dengan sejumlah catatan serius untuk perbaikan ke depan. Terima kasih dan penghargaan kpd pemerintah, KPU, Bawaslu, DKPP dan semua yg telah bekerja keras untuk pileg 2014.. Dalam siklus demokrasi, kondisi sekarang disebut "people has spoken". Rakyat sudah menjatuhkan pilihan. Harus dihormati.

Sengketa kepemiluan adalah hal yg wajar. Dgn semangat utk memastikan tidak ada suara rakyat yg diselewengkan.. Saya mengucapkan selamat kepada semua peserta pemilu. Khususnya PDI P, Golkar dan Gerindra yg menduduki tiga besar.. Juga kepada semua partai yg telah berkompetisi dengan sehat untuk menguatkan demokrasi di Indonesia.

Perolehan PKS patut disyukuri. Di tengah goncangan badai dan segela keterbatasan, kita bisa mengalahkan musuh terbesar : diri sendiri.. Musuh terbesar adalah diri kita sendiri, terutama keraguan pada kemampuan sendiri dan kegentaran melihat seolah pesaing begitu kuatnya. Perolehan PKS adlh pembuktian kepada seluruh kader dan keluarga besar PKS tentang alasan eksistensi kita. Apa pun yg terjadi, kita akan tetap berjuang demi bangsa dan Tanah air; demi kebesaran agama dan keyakinan kita.

Terima kasih kepada seluruh kader, caleg, simpatisan dan keluarga besar PKS untuk hasil pileg ini. Semoga Alah mencatatnya sebagai pahala. Ini bukan akhir. Ini bukan hasil yg buruk. Inilah yg terbaik yg bisa kita hasilkan saat ini. Kita semua patut bangga dan bersyukur.. Kita akan segera berbenah untuk bangkit dan berlari lebih kencang lagi.. Apa pun yg terjadi, PKS akan tetap ada untuk Indonesia.


Kobarkan semangat Indonesia !!!



by status  fb Anis Matta
Read Post | komentar

Hanina, Fans Cilik Presiden PKS

Hanina Taqiya Maliha, Gadis kecil yang belum genap berusia 4 tahun itu tersenyum sumringah, dia tampak bahagia sekali. Bukan karena mainan atau baju baru, tapi karena dia akhirnya bertemu dengan Anis Matta, Presiden PKS idola nya.

Unik memang, kalau biasanya anak seusia itu menggemari tokoh-tokoh superhero, atau  figur-figur kartun, dia malah mengidolakan politisi.

“Saya sendiri gak tau awal mulanya gimana, yang jelas dia begitu terkesan sama Pak Anis waktu pertama kali ngeliat,” Tutur Ayah gadis cilik ini.

Sang Ayah juga bercerita bahwa pernah sekali waktu dia meminta untuk dibawa ke kantor DPP PKS karena ingin sekali bertemu dan foto bersama Anis Matta, sayangnya saat itu beliau sangat sibuk sehingga tak sempat bertemu.

Minggu (11/5) siang tadi ketika mendengar bahwa Anis Matta ada jadwal mengisi sebuah kajian politik islam di masjid Al Azhar, Kebayoran, ia serta merta mengajak sang ayah untuk datang. Keinginannya untuk bertemu langsung dan foto bersama beliau pun akhirnya tercapai.

“Wah, seneng banget dia.. Apalagi tadi sempat digendong,” kata sang ayah sambil tertawa.[anismatta.net]
Read Post | komentar

Anis Matta: Kita Membawa Spirit Kepahlawanan Bung Karno

Kamis, 03 April 2014

“Bengkulu merupakan saksi sejarah lahirnya Republik Indonesia. Tadi saya mengunjungi rumah pengasingan Bung Karno. Dan kita akan membawa spirit kepahlawanan Bung Karno untuk memutihkan Indonesia,” katanya, mengajak sekitar 15 ribu kader dan relawan PKS Bengkulu yang hadir untuk berjuang memenangkan PKS.

Mengiringi kerja keras yang telah dan akan terus dilakukan untuk pemenangan PKS, Anis mengajak kader dan relawan PKS untuk mengingat Allah. Presiden PKS itu lalu berdoa untuk pemenangan PKS.

“Ya Allah, tolonglah kami dengan pertolongan-Mu, kuatkan kami dengan kekuatan-Mu, dan menangkan kami dengan kuasa-Mu,” doanya.

Anis, yang digadang-gadang sebagai calon presiden dari PKS, juga berdoa untuk hadirnya cinta di negeri ini.

“Ya, Allah, bukalah pintu hati penduduk negeri ini. Jadikan mereka mencintai kami sebagai saudara mereka. Takdirkan kemenangan yang besar bagi kami. Dan jadikan kami pemimpin penduduk negeri ini,” tutupnya, yang disambut “aamin” dan takbir oleh para peserta. (DLS/MFS) *


Read Post | komentar

Anis Matta : Pilihlah Pemimpin Yang Mewakili Anda !

Rabu, 15 Januari 2014

Semarang – Seorang pemimpin harus mampu mewakili apa yang dipimpinnya. Itulah ide yang disampaikan oleh Anis Matta pada Dialog Kebangsaan “Mencari pemimpin Indonesia, dari Kampus untuk Negeri”, Senin (13/1), di Universitas Negeri Semarang (UNNES), Semarang, Jawa Tengah.

“Kalau kita ingin membawa indonesia lebih maju pada masa depan, kita harus mencari pemimpin yang dapat mewakili kita,” kata presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.

Sebelumnya, Anis menyebutkan bahwa saat ini bangsa Indonesia telah memasuki era gelombang ketiga. “Generasi gelombang ketiga ini memiliki lima ciri, (yaitu) mereka adalah orang-orang muda, berpendidikan bagus, berpenghasilan bagus, terkoneksi dengan baik, dan native democracy (warga negara asli demokrasi –red),” ungkapnya.

Maka pemimpin indonesia ke depan, menurut Anis, haruslah sosok yang dapat mewakili generasi tersebut. “Kita harus mencari pemimpin yang bisa mewakili pikiran, budaya, dan kepribadian dari generasi gelombang ketiga ini,” jelasnya.

Anis juga menyampaikan optimismenya terkait nasib bangsa Indonesia di masa depan. “Bangsa ini memiliki semua alasan untuk optimis. Jadi tidak ada alasan bagi calon pemimpin bangsa ini untuk menjual kecemasan kepada masyarakat,” pungkasnya.

Usai Anis berpidato, beberapa peserta menyampaikan apresiasinya. Rio (19), mahasiswa UNNES, berpendapat, “Apa yang disampaikan Pak Anis itu bagus. Kita memang harus optimis.” Sedangkan Dewi (18), mahasiswi UNNES jurusan sastra, langsung menitipkan aspirasinya, “Saya setuju dengan Pak Anis. Semoga nanti Pak Anis bisa memperjuangkan nasib guru honorer menjadi lebih baik.”

Acara dialog kebangsaan ini digagas oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNNES dan Poltracking. Acara yang berlangsung sekitar empat jam ini dihadiri lebih dari 2000 peserta. Acara ini juga dimeriahkan dengan berbagai pagelaran seni, seperti teater, tarian, demo melukis, dan pembacaan puisi. (DLS/MFS) *


Read Post | komentar

Cinta Tanpa Definisi by Anis Matta

Semarang – Di akhir acara Dialog Kebangsaan bertajuk “Mencari Pemimpin Indonesia, dari Kampus untuk Negeri”, Hanta Yuda, MA selaku moderator meminta para pembicara memberikan persembahan kepada peserta yang memenuhi Ruang Auditorium Universitas Negeri Semarang (UNNES), Senin (13/1).

Maka tampillah Dr. Wiranto, Dr. (HC) Sutiyoso, dan Dr. Syahrul Yasin Limpo dengan lagu andalan masing-masing. Tibalah giliran Anis Matta. Tokoh muda kelahiran Makasar 45 tahun yang lalu itu tersenyum, kemudian dengan tenang menyapa peserta.

“Saya ini lelaki yang suka puisi. Dan sering juga menulis puisi. Maka pada kesempatan ini, saya ingin membacakan sebuah puisi untuk kawan-kawan,” kata Anis. Persembahan Anis yang berbeda dari pembicara yang lain itu langsung mendapat perhatian peserta.

“Cinta Tanpa Definisi,” Anis menyebut judul puisinya secara perlahan. Seisi ruangan yang didominasi anak muda itu riuh dengan tepuk tangan. Terdengar siulan dari arah peserta. Banyak juga yang tersenyum-senyum sendiri.

Seperti angin membadai / Kau tak melihatnya / Kau merasakannya / Merasakan kerjanya saat ia memindahkan gunung pasir di tengah gurun / Atau merangsang amuk gelombang di laut lepas / Atau meluluhlantakkan bangunan-bangunan angkuh di pusat kota metropolitan,” Anis menjeda puisinya. 

Seisi ruangan senyap.

Kemudian Anis melanjutkan, “Begitulah cinta / Ia ditakdirkan jadi kata tanpa benda / Tak terlihat / Hanya terasa / Tetapi dahsyat!” Sontak seisi ruangan kembali riuh dengan tepuk tangan.

Jauh hari sebelum ditunjuk sebagai presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Anis Matta memang lebih dahulu dikenal sebagai sosok penulis produktif. Beberapa bukunya, seperti Serial Cinta, Dari Gerakan ke Negara, dan Mencari Pahlawan Indonesia, mendapat apresiasi luas dari masyarakat, terutama kalangan anak muda. Pada tulisan-tulisannya itu, seringkali ditemui kutipan puisi. Puisi-puisi tersebut ada yang merupakan karya Anis, ada juga karya penyair kenamaan, seperti Iqbal, Chairil Anwar, dan Sapardi Djoko Damono.*
 
 
Read Post | komentar

Sepenggal Firdaus

Jumat, 06 Desember 2013

Bumi tidak cukup untuk dibagi bersama. Manusia sudah terlalu banyak untuk sumber daya yang terlalu sedikit. itu doktrin Robert Malthus kepada Barat. Maka dunia pun berubah jadi rimba raya: mari kita adu kuat untuk merebut sumber daya bumi.

Sejak itu kompetisi lantas jadi bahasa sosial, ekonomi dan politik. Watak kita adalah keserakahan. Tidak ada cinta yang memungkinkan kita saling berbagi. Dua puluh lima persen penghuni bumi yang bermukim di belahan utara menguasai tujuh puluh lima persen kekayaan bumi. Sementara tujuh puluh lima persen penduduk bumi yang ada dipojok selatan dunia harus berbagi atas dua puluh lima persen kekayaan yang tersisa. Padahal sebagian besar sumber daya alam justru dititip Tuhan di belahan selatan. Inilah imperialisme: mereka menciptakan kesejahteraan diatas penderiataan bangsa lain.

Itu yang terjadi ketika cinta lenyap dari kehidupan kita. Tidak ada kedermawanan kolektif yang membuat kita mau berbagi. Inilah penyakit eksistensial Barat saat ini, kata Erich Fromm. Cinta sudah habis pupus dari jiwa Barat. Mereka tak lagi punya cinta. Mereka tak lagi sanggup mencintai. Bumi pun jadi sempit dan sumpek. Bahkan terasa seperti neraka: setiap jengkal tanahnya, setiap jenak suasananya adalah panas. Tak ada ruang yang membuat kita merasa nyaman menghuninya.

Cintalah yang memungkinkan kita mengubah dunia kita jadi sepenggal firdaus. Bumi akan terasa nyaman dihuni sumber kehidupan, kalau kita mau berbagi atas nama cinta. Keserakahanlah yang membuat bumi jadi sempit. Kalau sedekah tidak mengurangi kekayaan, seperti sabda Rosulullah saw, maka berbagi tidak akan membuat kita kekurangan. Apalagi miskin.

Serakah mendorong orang jadi pelit dan angkuh. Sebab serakah adalah cara merebut kekayaan, sementara pelit dan angkuh adalah cara mempertahankannya. Maka kemiskinan pun mengubah orang jadi pendendam. Sebab ketidakberdayaan mendorong mereka mencari kambing hitam. Mereka itulah kambing hitamnya: orang-orang kaya yang telah mengalahkan mereka dalam pergulatan sosial ekonomi.

Konflik sosial kita sesungguhnya selalu tercipta di garis batas itu: antara orang kaya yang pelit dan angkuh dengan orang miskin yang apatis dan pendendam. Bukan kesenjangan menciptakan menciptakan konflik. Tapi serakah dan pelitlah yang membuat orang-orang miskin merasakan pahitnya mesenjangan itu. Maka mereka bereaksi: jarah, hancurkan kekayaan mereka! Mereka tidak jadi kaya dengan menjarah. Tapi mereka puas. Dendam mereka lepas tuntas.

Hanya cinta yang dapat merekatkan mereka. Bersedekahlah, kata Rasulullah saw, sebab itu akan menghilangkan dendam orang-orang miskin.

sumber : http://rumahkeluarga-indonesia.com/sepenggal-firdaus-2-5786/
Read Post | komentar
 
© Copyright Indonesia Bangkit ! 2013 - Redesigned by @defio84 | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all