Afsel Tolak Perwakilan Pemerintah Kudeta Mesir Hadiri Pemakaman Mandela

Rabu, 11 Desember 2013

Salah seorang mantan anggota DPR Mesir era Mursi bidang hubungan luar negeri, Dr. Abdul Maujud Dardiri terbang ke Afsel Selasa kemarin dan mengucupkan belasungkawa atas meninggalnya Nelson Mandela. 

Yang mengejutkan adalah, anggota DPR bidang hubungan luar negeri itu mengucapkan belasungkawa atas nama Muhammad Mursi, presiden Mesir yang sah.

Sebagaimana yang dikutip situs Moraselon, dihari yang sama Afsel mengumumkan penolakan atas perwakilan pemerintah kudeta Mesir untuk menghadiri pemakaman Mandela yang akan dilaksakan pada 15 Desember mendatang.

Mandela akan dikebumikan di tanah kelahirannya di Desa Qunu, Eastern Cape. Selama beberapa hari  ke depan, rakyat Afsel masih melakukan upacara berkabung menjelang pemakamannya. (sa/kasurau)
Read Post | komentar

Tujuh Modal Utama Gerakan Dakwah | Ustadz Hilmi Aminuddin

Kekuatan moral dan spiritual. Itulah yang akan menjadi modal pertama dan utama dalam setiap pergerakan. Mungkin saja landasan moral dan spiritual sebuah pergerakan salah atau batil, tetapi pasti punya semangat. Apatah lagi kita yang mempunyai landasan moral dan spiritual yang benar, yang berasal dari Allah SWT.

Kekuatan moral dan spiritual yang benar akan menghasilkan azzam (tekad) dan irodah qowiyyah (kemauan yang kuat). Bahkan orang akan muda selamanya dan bergairah terus jika bergerak atas landasan moral dan spiritual yang benar. Dan kita Alhamdulillah telah diberikan karunia itu oleh Allah SWT.

Modal yang kedua adalah modal intelektual. 


Allah sangat merangsang manusia lewat ayat-ayat Al-Qur’an yang berbunyi ‘afala ta’qilun, afala yatafakkarun. Otak yang terpakai oleh manusia hanya sekitar 5% dari volume otak kita. Kemudian kekuatan ini ditambahkan dengan kekuatan pendidikan/tarbiyyah.

Modal yang ketiga adalah modal ideology/idealisme, 


yang dengan adanya ini kita mempunyai visi dan misi. Ini juga merupakan karunia Allah kepada kita berupa pikiran yang baik, bisa mempunyai pandangan jauh ke depan walaupun dalam masa-masa sulit. Selalu menjadi barisan pelopor, barisan perintis dengan kejelasan ideologi ini.

Modal keempat adalah modal manhaj/metodologi. 


Allah tidak hanya memberikan perintah saja tetapi juga konsepsi dan landasan operasional. Shalat dan haji diperintahkan oleh Allah, tetapi dalam pelaksanaannya Allah mencontohkan melalui Rasulullah. Dalam berjuang dan berjihad pun harus mengikuti Rasul, tidak membeo, tetapi harus mengerti. Qudwah kepada Rasul merupakan kebutuhan, bukan hanya sekedar kewajiban, karena tanpa Rasul Islam tak bisa jalan. Rasulullah yang mencontohkan kepada kita dakwah dan jihad yang jelas, terarah, dan sistemik.

Modal kelima adalah modal kefitrahan.  


Dinul Islam adalah modal besar karena sesuai dengan fitrah manusia, tidak berbenturan dengan kultur manusia, binatang, dan ekosistem. Bahkan Allah menegaskan bahwa semuanya itu adalah jundi-jundi (tentara) Allah. Artinya, kita harus yakin bahwa pergerakan yang bertentangan dengan fitrah manusia adalah bertentangan dengan Allah. Karena semuanya bergerak dalam nuansa dan irama yang sama. Semuanya bertasbih kepada Allah. Karena itu, jika perjuangan Islam kompak dengan perjuangan alam / universe, maka perjuangan itu akan berhasil. Pohon, tumbuhan, binatang, cuaca, gejala alam, kesemuanya menjadi teman-teman perjuangan kita.

Jika berjuang tanpa fitrah alam, pasti akan gagal. Karena fitrah itu baku dan tetap sepanjang zaman. Ini adalah modal yang sangat besar walaupun kita tidak merasakannya, padahal bantuan Allah lewat alam/nature itu tinggi. Misalnya, bekerja dalam hujan tidak masuk angin, angin dan hujan jadi penyegar. Bahkan kesemuanya itu mengokohkan jika kita berstatus jundullah. Caranya, sesuaikanlah sifat jundiyyah kita dengan jundiyyah angin, binatang, pohon, dan lain-lain. Rasulullah sering dibantu oleh jundi alami ini (tumbuhan, binatang, cuaca, dan lain-lain). Bahkan karomah para sahabat dalam perang Qodisiyah ketika mereka menyeberang sungai mereka berkata: ‘Wahai air, kita sama-sama jundullah, bantulah saya karena sedang melaksanakan tugas’. Akhirnya air yang dalam dan deras itu menjadi dangkal dan tenang untuk dilewati.

Modal keenam adalah modal institusional. 


Kerja kita adalah kerja kolektif, yang banyak orang tidak memilikinya. Kita memperoleh banyak dukungan dari proses-proses jama’i ini. Seperti tawasshou bil haq dan tawasshou bish shobri. Itu hanya bisa dilakukan dengan jama’ah, karena tawasshou ini diperlukan dalam gerakan agar tidak tergelincir. Ba’duhum awliya u ba’din. Kritikan dan peringatan itu perlu. Itu semua hanya bisa dilakukan dalam proses institusionalisasi. Ketika tantangan dakwah berat dan sulit, ada tawasshou bish shobr sehingga menimbulkan daya tahan. Wama dho’ufu wa mastakanu, serta tawasshou bil marhamah. Ketika seseorang tersebut tidak sendirian, tetapi bersama-sama dengan banyak orang, potensinya tidak akan terpuruk.

Modal ketujuh adalah modal yang sifatnya material. 


Sebenarnya Allah telah banyak memberikan modal material ini kepada kita berupa alam semesta beserta segala isinya. Tetapi mungkin kita belum bisa mendayagunakannya. Bahkan dalam QS Al-Hajj 34, Allah berfirman bahwa ‘Telah Aku datangkan segala apa yang kamu butuhkan, wa in ta’uddu ni’matallah laa tuhsuha. Tetapi karena kezaliman dan ketidak proporsionalan kita, sehingga tidak memiliki daya inovatif dan kreatif untuk memanfaatkannya. Menyadari nikmat Allah itu penting. Bagaimana nikmatnya udara, sehari kurang lebih 350 kg kita memakai oksigen untuk tubuh kita, 1/5 nya dipakai oleh otak.

Kesadaran memiliki modal dasar itu penting demi irodah qowiyyah dan azzam. Kalau melihat perjalanan dakwah ke belakang, zaman tahun 80-an, zaman Benny Moerdani, bagaimana dakwah itu dikekang, diatur dan dikendalikan. Bahkan menafsirkan QS Al-Ikhlas saja diberangus, sampai akhirnya setelah dikejar-kejar, temanya diganti menjadi syarat sahnya wudhu. Justru di masa-masa sulit itulah dakwah berkembang dan berekspansi karena punya modal banyak.

Pada saat itu para muwajih tidak dijemput dengan mobil, tetapi banyak yang berjalan kaki karena keadaan ekonomi yang sulit. Cari tempat acara dauroh juga sulit. Halaqoh di kebun binatang, di taman, di lapangan, di kebun raya, tanpa whiteboard. Itu semua karena kita punya kesadaran bahwa kita kaya, yang menyebabkan kita selalu menjadi barisan perintis dan barisan pelopor. 

*http://www.alintima.com
Read Post | komentar

Kotak Kecil dari Khalid Misy’al untuk LHI

Lutfi Hasan Ishaaq (LHI)  divonis 16 tahun penjara. Ada yang menanggapi hal itu dengan ‘girang’ dan ada yang merasa sedih dan miris. Termasuk kelompok yang manapun Anda, ada sepenggal kejadian yang sangat mengharukan sesaat sebelum dan sesudah LHI divonis. Penggalan kisah ini diambil dari status FB Euro Abu Ali dengan sedikit perubahan, sebagai berikut:

Alhamdulillah semalam kami berkesempatan bersilaturahmi dengan beliau dan banyak ikhwah di pengadilan tipikor hingga persidangan berakhir. Sebelum masuk ruang sidang masih di ruang tunggu beliau sempat berbagi cerita dan memberikan kesempatan kepada banyak ikhwah yang hadir untuk melepas kangen dan foto bersama dengan beliau.

“ Ustadz, bagaimana sudah siap dengan segala keputusan Majelis hakim?” Tanya banyak wartawan.
Beliau jawab, “Sekarang Anda saksikan saya ada di sini berarti saya siap dengan segala putusan majelis hakim.”

Setelah itu beliau menerima kotak kecil berwarna coklat dari Dr. Taufik R Wijaya (Ketua Bid. Biro Hubungan Luar Negeri). Beliau bertanya sambil berkaca-kaca matanya, “Antum tahu ini dari siapa?”
Kami semua di ruang tunggu terdiam, tiba-tiba beliau memecah kebekuan dengan kata-kata, sambil menunjukkan kotak kecil itu, ini yg membuat ana terharu… (semua terdiam)…, “Alhamdulillah investasi ana untuk Palestina sudah berjalan dan Ini dari Khalid Misy’al.”

Sontak air mata tumpah ruah dalam ruang tunggu. Beliau lanjut bercerita bahwa 4 hari sebelum ditahan KPK, beliau dari malaysia dengan beberapa tokoh menggagas pertemuan Khalid Misyal dengan PM Malaysia dalam rangka menggalang dukungan  dan bantuan untuk Palestina. Dan alhamdulillah pertemuan tersebut  sudah berjalan dan setelah itu rencananya Mesir, “Tapi saya… Antum semua yang sekarang harus melanjutkan.”

Setelah itu beliau masuk ke ruang sidang, subhanalloh terlihat sabar… tegar… dan seperti biasa senantiasa melempar senyum sambil mendengarkan majelis hakim hingga vonis majelis hakim diputuskan. Setelah persidangan selesai sebelum kembali ke ‘guntur’, beliau sempatkan kembali berkumpul dan menyambut banyak ikhwah di ruang tunggu.

“Akhi, Bagaimana kita bisa berharap keadilan kepada yang tidak bisa berbuat adil pada dirinya,” kata beliau sambil menunjuk ke atas. “Hanya kepada Alloh kita berharap…”

Banyak cerita, hikmah, keteladanan, kesabaran, ketegaran, semangat dan kelembutan dari beliau yang kami rasakan semalam, semoga keteladanan beliau menjadi bekal bagi kita dalam menapaki jalan da’wah ini. Salah satu pesan beliau: “Akhi, pondasi sudah disiapkan, selanjutnya silahkan antum sekalian lanjutkan…”

Wallohu’alam…

* http://www.al-intima.com
Read Post | komentar

Hakekat Konfrontasi (Fahmul-Ma’rakah)

Ummat Islam, sebenarnya merupakan satu jama’ah atau satu partai, dan maju mundurnya jama’ah ini tergantung pada pencapaian ilmu, ciri-ciri khusus (karakteristik) dan komitmen ummat terhadap Islam, ” demikian menurut Al-Ustadz Sa’id Hawwa (lihat “10 Aksioma Tentang Islam” penerbit Al-Ishlahy Press, hal. 76). 

Lebih tegas lagi, di dalam Badihiyat Ketujuh hal. 36 beliau katakan bahwa: “Kaum muslimin dalam suatu negara, bahkan di seluruh dunia harus merupakan satu sekutu, satu blok dan satu jama’ah. Sekutu ini adalah sekutu iman dan politik. Apapun bentuknya yang mencoba untuk memisahkan dan mengesampingkan hal ini adalah satu kekufuran dan kesesatan yang amat besar. Sekutu dan blok tersebut harus mempunyai Imam tersendiri.” 

Semenjak 3 Maret 1924/ 27 Rajab 1342, kaum muslimin praktis tidak lagi memiliki institusi formal-konstitusional yang melindungi keberadaannya sebagai satu sekutu, satu blok dan satu jama’ah. Kala itu berakhirlah kejayaan Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki. Suatu kedaulatan yang membentang sedemikian luas dari Maroko di barat sampai Maluku di timur sehingga memperoleh sebutan “The Ottoman Empire” dari kaum Nasrani Eropa. 

Suatu kebanggaan historis yang menyebabkan orang muslim Turki dewasa ini sangat gemar memajang peta wilayah kekuasaan khilafah Utsmaniyah di dinding masjid-masjid mereka di Belanda dan Jerman.

 Para ulamanya masih dapat menghayati betapa Maroko, Sudan, Semenanjung Balkan, Azarbaijan, Afghanistan, India dan segenap kepulauan Nusantara merupakan bagian dari “negara milik kita, kaum muslimin bersama.” Jiwa ke-negarawan-an atau lebih tepatnya “ke-khilafahwan-an” sedemikian kuat mengalir di dalam darah mereka.


Padahal menurut sebuah hadis Nabi saw mengenai “pergantian kepemimpinan” riwayat Ahmad sesungguhnya masa khilafah Utsmaniyah Turki ini bukanlah merupakan masa kepemimpinan Islam yang ideal. 

Ia tidak merepresentasikan sistem Al-Khilafah ‘ala Minhaaj An-Nubuwwah atau Khilafah sesuai sistem Kenabian. Ia justeru mewakili zaman kepemimpinan Mulkan ‘Aadhdhon atau Raja-raja yang menggigit. 

Yaitu suatu masa kepemimpinan terpanjang di dalam sejarah Islam yang belangsung selama sekitar 13 abad semenjak Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyyah hingga Khilafah Ustmaniyah Turki. 


Husain Muhammad Ali Jabir mengomentari hal ini menulis: “…umat Islam memasuki era pemerintahan baru di mana khilafah dijadikan barang warisan di antara Bani Umayyah di Syam. Setelah Bani Umayyah berakhir, tampil Bani Abbas (kerajaan Abbasiyyah) melanjutkan khilafah (baca: kerajaan) tersebut di Irak, kemudian pindah ke Mesir hingga datang Sultan Sulaim yang menjadi raja terakhir dari kerajaan Abbasiyyah ini. Sesudah itu muncul khilafah Utsmaniyah yang merupakan lembaran terakhir dari bentuk pemerintahan yang diawali oleh Bani Umayyah tersebut. Lembaran ini, sejak Bani Umayyah sampai dengan Khilafah Utsmaniyah, mencerminkan periode ketiga dari periodisasi pemerintahan yang pernah disebutkan Rasulullah saw.” (Lihat “Menuju Jama’atul Muslimin”; Rabbani Press, hal. 105)

Dalam hadits riwayat Ahmad dari Hudzaifah bin Yaman bahwa Rasulullah SAW bersabda:

تَكُوْنُ النُّبُوَّةُ فِيْكُمْ مَا شَاءَ ا للهُ أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلآفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ، فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ اَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا عَاضًا ، فَتَكُوْنُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ مُلْكًا جَبَّرِيًّا ، فَتَكُوْنَ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُوْنَ ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ، ثُمَّ تَكُوْنُ خِلآفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ، ثُمَّ سَكَتَ

“Masa kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang masa kekhalifahan atas manhaj keNabian, selama beberapa masa hingga Allah mengangkatnya, kemudian datang masa raja-raja yang menggigit selama beberapa masa hingga Allah mengangkatnya, selanjutnya datang masa raja-raja dikatator dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah, setelah itu akan terulang kembali kekhalifahan atas manhaj keNabian. Kemudian Rasul SAW terdiam.”

Kaum muslimin telah melampaui tiga dari lima fase perjalanan periodisasi pemerintahannya. Masa “Kenabian” telah berlalu dengan wafatnya Rasulullah Muhammad saw. Masa “Khilafah sesuai dengan sistem kenabian” telah berlalu dengan berlalunya kepemimpinan Khulafa ArRasyidin Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin ‘Affan dan Ali bin Abi Thalib semoga Allah meridhai mereka semua. Dan masa “Raja yang menggigit” telah berlalu dengan berlalunya Dinasti Umayyah, Abbasiyyah dan Utsmaniyah Turki.

Saat ini kaum muslimin, bahkan seluruh ummat manusia berada di bawah kepemimpinan pemerintahan “Mulkan Jabriyyan” (raja-raja diktator). Pada mulanya “imamah” raja diktator tersebut belum memiliki konsolidasi terpusat. Ia terbelah menjadi dua kekuatan global blok barat dan blok timur. 

Namun mengingat bahwa al-kufru millatun wahidah (kekufuran adalah jalan hidup yang menyatu), maka semenjak 1989 dunia menyaksikan bahwa ia dipimpin oleh satu blok tunggal, yakni blok barat. Mulailah dunia menyaksikan hegemoni “the sole international police” negeri Paman Sam dengan satelitnya yang berkoalisi di dalam institusi G-7 (AS, Inggris, Perancis, Jerman, Itali, Kanada, Jepang plus Rusia sang pendompleng). 

Selanjutnya future engineering (rekayasa masa depan) umat manusia dan perjalanan dunia seolah disetir dan dirancang oleh kedelapan aktor di depan layar ini. Dengan kaum yahudi-zionis-kuffar berperan secara halus, cantik dan canggih sebagai sang aktor intelektual “behind the screen” (di belakang layar). 

Wajarlah bilamana perjalanan peradaban umat manusia saat in cenderung membangun sebuah “godless civilization” (peradaban anti-tuhan). Karena pada hakikatnya dunia saat ini sedang dipimpin oleh fihak yang tak seorangpun di antara mereka ruku’ dan sujud di hadapan Allah swt! Inilah fihak yang disebut Al-Qur’an sebagai hizbusy-syaithan.

Tetapi kita tidak perlu berputus asa. Sebab di samping Nabi saw menjanjikan masih akan terjadinya perubahan kepemimpinan sesuai hadis di atas, kitapun dijanjikan oleh Nabi saw sebuah hadis sebagai berikut:

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي قَائِمَةً بِأَمْرِ اللَّهِ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ
أَوْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ عَلَى النَّاسِ

“Tidak akan hentinya ada suatu kelompok dari ummatku yang senantiasa menegakkan kebenaran. Mereka tidak dapat dicelakakan oleh siapapun yang menentang mereka atau berusaha memotong suplai fasilitas perjuangannya. Dan mereka akan selalu hadir sampai hari kiamat” (HR Bukhari dan Muslim). 

Inilah fihak yang disebut Al-Qur’an sebagai hizbullah. Kehadiran hizbullah tidak dapat dipengaruhi oleh siapapun yang sedang memimpin pejalanan pemerintahan umat manusia. Dan ketika hizbusysyaithan memimpin dunia maka satu-satunya fihak yang dapat mengalahkan, setidaknya mereduksi kebatilan perencanaan hizbusysyaithan hanyalah hizbullah!

Kaum muslimin di dunia saat ini perlu mewaspadai segala rencana busuk hizbusysyaithan. Mereka tidak akan membiarkan negeri muslim manapun dipimpin oleh fihak yang dapat menghalangi niat jahat melestarikan “godless civilization” mereka.

Setiap negeri muslim tanpa kecuali, termasuk Indonesia, perlu menyadari betapa sistematis dan terprogramnya upaya hizbusysyaithan mengorbitkan ataupun menjatuhkan siapa saja aktor di depan layar panggung poltik yang menurutnya perlu diorbitkan atau perlu dijatuhkan. 

Dan Hizbullah berada pada garis terdepan untuk memastikan bahwa betapapun pahitnya pilihan-pilihan realita sosial-politik yang ada, namun ia bertanggung-jawab untuk meng-endorse aktor yang akan dijatuhkan oleh hizbusysyaithan dan sebaliknya menolak setiap aktor kandidat pemimpin yang sejatinya diorbitkan oleh pasukan kebatilan. [eramuslim]
Read Post | komentar

Politisi PKS Riau : Riau telah menjadi mata rantai kejahatan antarnegara

PEKANBARU -- Wakil Ketua Komisi A DPRD Riau, Syafruddin Sa'an, mengatakan bahwa Riau telah menjadi mata rantai kejahatan antarnegara karena letaknya yang strategis dan berbatasan langsung dengan negara lain.

"Riau telah menjadi salah satu mata rantai kejahatan antarnegara. Semua kejahatan pasti melibatkan Riau seperti peredaran narkoba dan terorisme," kata Syafruddin Sa'an saat rapat dengar pendapat dengan Badan kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) d Pekanbaru, kemarin.

Untuk itu ia menilai sangat perlu ditingkatkan peran intelijen untuk memberi informasi dan analisis menghambat kejahatan tersebut datang dan pergi melewati Riau. Saat ini ia menilai peran tersebut tidak nampak karena Kesbangpol hanya melakukan materi intelijen hanya dengan seminar-seminar saja.

Lebih lanjut ia meminta Kesbangpol untuk menjalin komunikasi yang intensif dengan Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Polhukam). Hal ini menyangkut dengan pesisir pantai Riau yang tidak terurus sehingga kerap dijadikan pintu masuk kejahatan.

"Sangat sulit mengkontrol kondisi pesisir timur Riau yang sebrawut dan begitu panjang," kata Syafruddin Sa'an.
Kabupaten yang harus lebih diawasi adalah Kabupaten Rokan Hilir yang berbatasan dengan Sumatera Utara dan Selat Malaka. Diduga praktik kejahatan antarnegara kerap terjadi disini karena medan yang sulit dan keterbatasan pertahanan Angkatan Laut.

Oleh karena itulah ia mempertanyakan peran kesbangpol dalam mengkoordinasikan intelijen untuk memutus mata rantai tersebut. Riau tidak hanya menjadi pintu masuk bagi kejahatan tapi bisa juga menjadi pintu keluar. "Kalau di Jawa lari masih bisa dihambat dari daerah lain. Kalau di Riau mereka keluar langsung ke negara lain," lanjutnya.

Sementara itu dari Kesbangpol sendiri mengatakan bahwa koordinasi dengan intelijen tetap dijalankan. Contohnya pada demonstrasi yang dilakukan di Pekanbaru. Sebelum ada demonstrasi Gubernur telah diberi tahu oleh Kesbangpol terlebih dahulu. [rol]
Read Post | komentar

Politik punya Dua pilihan Ekstrim : Penjara dan Istana

Selasa, 10 Desember 2013

....Dan jika bajunya bagian depan yg robek maka perempuan itu yg benar...dan jika yg robek bagian belakang maka Yusuf yg benar...maka didapati baju Yusuf AS belakangnya yg sobek...12:27-29

...Fakta pengadilan...Yusuf tak bersalah...tapi demi keselematan ibu negara...Yusuf harus dipenjara...tuduhan berat...berusaha memperkosa ibu negara...

...Tahukah engkau ikhwah fillah...gerangan apa yang membawa Yusuf ke istana...mimpi tentang sapi besar makan sapi kecil....

...Sebelum Sukarno jadi Presiden..dia mencicipi penjara sukamiskin dan digul...Buya Hamka menulis Tafsir Al Azhar dipenjara...Sayyid Qutb menulis Fi Dzilalil Quran dipenjara...Napoleon Bonaparte merasakan penjara elba ( nusa kambangan dikita)

...Politik punya dua pilihan extrem....penjara dan istana....

ALLAHU AKBAR walillahilhamdi...
 
 
*Taujih Pagi Anis Matta
Read Post | komentar

PKS Hanya Fokus 'Main Bola'

JAKARTA -- Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menegaskan tidak akan terlalu mengurusi suara-suara nyinyir di luar partai. Mereka akan fokus pada konsolidasi internal dan membangun dukungan dari massa akar rumput.

''Ibarat main bola, kita tidak akan mendengar komentator ngomong apa. Kita akan fokus dan kerja keras hanya untuk menjebol gawang lawan,'' kata Ketua DPP PKS, Jazuli Juwaini, Selasa (10/12).

Dijelaskannya, sudah sejak lama pasca-kasus Lutfi Hasan Ishaq, kader PKS sudah terkonsolidasi dengan baik. Sehingga persoalan itu sudah tidak mengganggu PKS lagi. Bahkan PKS optimistis akan bisa meraih suara optimal di Pemilu 2014. [rol]
Read Post | komentar
 
© Copyright Indonesia Bangkit ! 2013 - Redesigned by @defio84 | Powered by Blogger.com.
Template Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates and Theme4all